Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas: Main-main Serius Perihal Burung

Adakah main-main yang serius? Atau pertanyaannya dibalik, adakah serius yang main-main? Bukalah buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan Anda akan mendapati implementasi dari kedua frasa ini sekaligus. Kesuka-sukaan yang telah menyentuh level jahil,  kebebasan untuk ngawur yang dipamerkan dengan serba terbuka, tapi semua ini tidak lantas menjatuhkannya jadi sampah.

 

REPRO | SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

REPRO | SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

SEPERTI Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (selanjutnya kita sebut SDRHDT saja), adalah novel ketiga Eka Kurniawan. Novel yang berbeda -meski di beberapa bagian masih meninggalkan jejak- dari dua novelnya terdahulu, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Benang merah paling nyata adalah karakter yang berasal dari kalangan rakyat kebanyakan dengan kelakuan serba absurd, alur perceritaan yang tidak pernah setia pada pola tertentu, serta penghadiran hal-hal kontradiktif dari apa yang sudah menjadi pengetahuan umum namun secara “menjengkelkan” terpaksa diterima sebagai sesuatu yang rasional.

Di jagat sastra Indonesia, Eka, ditempatkan (atau boleh jadi menempatkan dirinya) pada posisi unik. Seperti kebanyakan penulis yang muncul di era pertengahan hingga akhir 1990an, awal-awalnya ia memampangkan banyak karya (terutama cerpen) di media massa (koran, tabloid, dan majalah). Karya-karya ini, sebagian kecil, kemudian dibukukan dalam tiga kumpulan: Corat-coret di Toilet, Gelak Sedih, dan Cinta Tak Ada Mati.

Setelah masa ini, Eka tidak lagi produktif. Tidak lagi jor-joran memampangkan cerpen di media massa. Cerpen-cerpennya hanya muncul sesekali, namun dengan daya tohok yang dahsyat. Belakangan ia menaruh minat pada genre horor dan melakukan pembacaan ulang terhadap seluruh karya Abdullah Haharap. Horor-horor Abdullah Harahap ini, antara lain kemudian melahirkan cerpen berjudul Taman Patah Hati (2009), darimana saya untuk pertama kalinya mengenal Ajo Kawir, tokoh rekaan yang jadi karakter utama dalam SDRHDT.

Saya membaca Bab I SDRHDT dengan benak yang terus dibekap tanda tanya. Apa-apaan ini? Setelah Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau yang masing-masing terbit pada awal dan pertengahan 2004, Eka membutuhkan 10 tahun untuk menerbitkan SDRHDT. Selama tiga tahun pula ia merampungkannya (2011-2014). Begitu besar perhatian Eka tersita untuk novel 243 halaman ini, hingga selama satu tahun terakhir ia tidak menghasilkan cerpen sama sekali. Tiga tahun tersia-sia hanya untuk menuliskan kalimat-kalimat remeh seperti ini? Saya juga terperanjat mendapati kata-kata cabul. Bahkan keterperanjatan ini sudah dimulai pada kalimat pertama di paragraf pertama: “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati“.

Aih, sungguh berbeda dibanding kalimat pembuka nan memukau dalam Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Apakah Eka sedang bermain-main? Apakah Eka sedang tidak serius? Walau heran entah mengapa saya tak yakin. Saya menduga Eka punya maksud lain (sebab rasa-rasanya memang tak mungkin ia mempersembahkan novel sampah pada Ratih Kumala, istrinya -juga seorang penulis sastra), dan dugaan ini, pelan-pelan, terbukti di bab-bab selanjutnya.

Novel ini sejak awal memang tidak ingin bicara tentang ide besar. Eka cuma mau bicara soal “burung”. Iya, burung dalam tanda kutip, yakni alat kelamin laki-laki, milik Ajo Kawir, seorang sopir truk lintas Pantura (Pantai Utara Jawa). Burung ini mendadak tidur dan tak mau bangun lagi (baca: tidak bisa ereksi), saat Ajo Kawir yang masih remaja, kepergok mengintip aksi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua oknum polisi terhadap Rona Merah, seorang perempuan gila, di satu rumah kosong. Ajo Kawir dipaksa melihat aksi ini, lantas dipaksa ikut melakukannya, dan saat itulah petaka terbesar dalam hidupnya terjadi.

Bab-bab selanjutnya riuh dengan upaya Ajo Kawir membangunkan burung yang tertidur. Mulai dari membaca stensilan, nonton film porno, menggosok dengan sabun dan cabai, menyengat dengan tawon, sampai mengancam akan memenggalnya dengan parang. Upaya yang dilakukannya selama bertahun-tahun ini juga mendapatkan bantuan dari dua orang lain, yakni sahabatnya Si Tokek, serta Iwan Angsa, ayah Si Tokek. Iwan Angsa inilah yang melontarkan kalimat pembuka tadi. Pada kesempatan lain, ia juga melontarkan kalimat berbeda tapi kurang lebih bermakna serupa: “Lelaki yang tak bisa ngaceng sebaiknya jangan dibikin berang.”

Kedua kalimat Iwan Angsa ini mewarnai seluruh tubuh novel. Dan pendapat saya pun berubah. Kalimat pembuka yang sama sekali “tak nyastra” tadi memiliki daya pukau sedahsyat Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Bahkan lebih jauh, saya kira -tidak terlalu berlebihan jika dikatakan- sudah berada dalam jarak yang tidak jauh dari pembukaan masterpiece Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian): “Bertahun tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buenda mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es.”

Dari burung Ajo Kawir yang tertidur, Eka melesat ke banyak fragmen yang membuat segala keremehan berubah jadi rumit. Begitu rumit hingga jika satu bab saja dihilangkan bakal meruntuhkan seluruh bangunan kisah. Ada fragmen Ajo Kawir yang jatuh cinta kemudian patah hati. Ada pertarungan-pertarungan jalanan yang serba berdarah-darah. Ada konspirasi pembunuhan. Ada “catatan perjalanan” eksotis, petualangan menyisir Pantura dengan truk. Ajo Kawir menjadikan truk ini sebagai bagian dari hidupnya. Dan seperti umumnya sopir-sopir truk, ia menghias bak bagian belakang. Ajo Kawir memilih gambar burung yang di atasnya dilengkapi  tulisan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Rindu pada burung. Rindu pada Iteung, perempuan petarung bayaran yang menjadi istrinya. Istri yang tidak pernah ia tiduri, yang namun kemudian hamil akibat percintaan dengan Budi Baik, pacar lamanya, dan terpaksa masuk penjara setelah membunuh dua polisi yang membuat burung Ajo Kawir tidur pulas.

Teori Psycoanalysis Sigmund Freud digunakan Eka untuk memutus nasib Ajo Kawir. Ia dipertemukan dengan Jelita, perempuan buruk rupa, kenek yang membantunya dalam perjalanan. Tanpa penjelasan berumit-rumit (kecuali serangkaian mimpi erotis) Ajo Kawir bercinta dengan Jelita. Burung itu bangkit dari tidur panjangnya. Namun kisah mereka tak berlanjut. Setelah bercinta di toilet kumuh sebuah SPBU, Jelita pergi begitu saja, dan seketika Ajo Kawir sadar betapa perempuan buruk rupa ini sungguh mirip dengan Rona Merah.

Eka Kurniawan menutup novelnya yang “brutal” (Gramedia secara khusus memberi label 21+) dengan kalimat menggelitik dari percakapan Si Burung dan Ajo Kawir menyangkut Iteung: “Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau sabar menungguku bangun, Tuan. Bolehkah sementara menunggu, aku tidur lagi?

data buku |
Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Editor: Mirna Yulistianti
Halaman: 243
Ukuran: 14 x 21 cm
Cetakan: Mei 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Dimuat Harian Analisa
Minggu 7 September 2014

Iklan

2 pemikiran pada “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas: Main-main Serius Perihal Burung

  1. Ping balik: Beberapa Ulasan, September 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s