TERIAKAN kencang Anwar Sadat jadi awal kehebohan di pagi buta itu. Haji Zainuddin meninggal, katanya di sela nafas memburu, sesaat setelah orang-orang yang belum lama beranjak dari masjid usai mendirikan Subuh berjamaah kembali dengan langkah tergopoh.
Tentu saja tak ada yang langsung percaya. Masih sangat segar di ingatan mereka bagaimana Haji Zainuddin membikin dongkol anak-anak remaja masjid yang sedang semangat berdebat perihal sepak bola. Terutama menyangkut klub mana yang akan jadi kampiun di liga-liga top Eropa.
Haji Zainuddin nimbrung. Bilangnya, sepak bola bukan sekadar perkara sepak-menyepak si kulit bundar untuk diceploskan ke gawang. Bukan sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sepak bola sesungguhnya seni merawat harapan. Selain kerja keras dan strategi, dalam satu upaya memburu gelar juara, harapan berperan tak kalah besar.
“Intinya jangan sesekali habis harapan walau klub yang kalian dukung sedang tertinggal poin. Liga belum selesai. Masih ada beberapa pertandingan yang bisa mengubah situasi. Lain cerita kalau kalian suporter Arsenal. Ini benar kekecualian. Sebangsa takdir Tuhan. Bahkan sebelum kompetisi dimulai pun kalian boleh mematikan harapan.”
Tawa meledak. Perdebatan bubar. Anak-anak remaja masjid beringsut menjauh dengan tersungut-sungut. Mereka sebenarnya punya banyak amunisi untuk melakukan serangan balik. Klub sepak bola favorit Haji Zainuddin adalah Manchester United. Di Liga Inggris saat ini, Manchester United yang punya julukan menggetarkan, Setan Merah, belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sebaliknya, justru sinyal buruk yang mengemuka. Kompetisi baru akan memasuki pekan kelima, tetapi dua kekalahan sudah didera. Satu di antaranya bahkan boleh dikata sungguh memalukan. Tak tanggung, mereka dibantai di Old Trafford, stadion keramat yang bertahun-tahun lampau begitu angker bagi lawan mana pun.
Namun anak-anak remaja masjid memilih untuk menahan diri. Sejak lama mereka sudah saling sepakat bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan suporter Manchester United yang bergelar haji. Menang tidak malah kualat.
Haji Zainuddin ikut tertawa, lalu masuk masjid untuk membereskan tugas-tugas rutinnya. Secara resmi Haji Zainuddin adalah muazin. Namun dalam praktik sehari-hari, terutama setelah Tok Jalal nazir lama pindah ke kampung sebelah, dia juga mengerjakan tugas-tugas nazir.
Jadi siapa bisa percaya? Terlebih-lebih penyampai kabar adalah Anwar Sadat. Anak muda ini terlanjur dikenal sebelas dua belas perbandingan tingkat keisengannya dengan Haji Zainuddin. Maka –ini belakangan diketahui– memang sempat melintas kecurigaan di pikiran orang-orang yang kembali itu, bahwa kabar kematian tak lebih dari sekadar kolaborasi akal-akalan Haji Zainuddin dan Anwar Sadat untuk mengisengi mereka. Barulah, setelah melihat sendiri tubuh Haji Zainuddin yang tergeletak, lalu memeriksa nadinya yang memang sudah tidak lagi berdenyut, mereka percaya kematian ini benar adanya.
Innalillahi wa innailaihi raji’un.
***
Haji Zainuddin, lelaki bertampang rusuh tapi berhati teduh. Dulu kami memanggilnya Mak Din. Mak dari ‘Mamak’, paman dalam bahasa Minang dan Mandailing, darah dua puak yang mengalir dalam dirinya.
Mak Din bukan orang pandai agama. Dia tak pernah menuntut ilmu di pesantren atau bahkan sekolah mengaji sekalipun. Tak pernah belajar pada kyai dan tuan-tuan guru. Pada kami dia selalu bilang Islamnya cukup makan saja. Salat lima waktu, mengaji, wirid yasin. Ramadan datang dia puasa. Sahur dan berbuka di masjid. Lalu tarawih. Tadarus? Kadang iya kadang tidak walau dia yang mengurus semua persiapan mulai dari memasang pelantang sampai menyuguhkan kopi untuk sekadar penawar kantuk dan penghangat badan. Mak Din tak berzakat karena justru dialah penerima. Ustaz Marsilam, imam masjid yang juga ketua badan kenaziran, atas persetujuan warga mengizinkan Mak Din tinggal di satu ruangan yang terletak di bagian belakang masjid. Sebelumnya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang.
Setiap hari, sejak lepas Subuh hingga menjelang siang dia bekerja di kedai nasi Marjili Samsuri di Pasar Pagi. Tugas Mak Din sebenarnya cuma mencuci piring-piring dan gelas kotor dan membersihkan meja. Namun dia tak pernah keberatan sekiranya diminta membuatkan kopi atau mengantarkan pesanan ini ke kios-kios pedagang. Apa boleh buat. Kopi bikinannya memang dikenal bercita rasa nikmat. Kental dengan takaran pahit manis yang pas. Mak Din bukan tidak tahu Marjili diam-diam memanfaatkan kebolehannya ini. Istilah kata, kerja dua gaji satu. Namun dia mendiamkannya. Tak apa, hitung-hitung amal, katanya tiap kali ada yang bertanya. Bikin orang senang pahala ganjarannya.
Kedai tutup dia kembali ke masjid untuk Zuhur, lalu tidur selepas bersih-bersih. Tidur ini pun sesungguhnya lebih sering gagal terwujud lantaran ada saja orang datang meminta bantuan. Membetulkan genteng bocor, misalnya, atau membabat rumput pekarangan, menyembelihkan ayam, atau mendirikan tenda untuk kenduri, dan masih banyak lagi. Atas semua ini Mak Din selalu menolak uang. Sebagai ganti, warga yang segan hanya menebus bantuannya dengan ucapan terima kasih, menyuguhkan makan siang, panganan kecil, atau sebungkus dua bungkus rokok kesukaannya, Gudang Garam Merah.
Sore sehabis Asar temuilah dia di tanah lapang. Mak Din, dengan seragam Manchester United yang itu-itu saja; berwarna merah dengan nomor punggung 7 bertuliskan ‘Cantona’, akan bermain membela tim kampung kami melawan tim-tim dari kampung lain yang silih berganti datang bertandang demi dua tiga krat Badak, limun Sarsaparilla bikinan Siantar.
Sosoknya mudah dikenali. Sebab selain kostum Cantona, di lapangan dia menjadi satu-satunya pemain yang mengenakan penutup kepala. Bukan sebangsa bandana atau helm sebagaimana dikenakan pemain-pemain kelas dunia yang tengah mendapatkan cedera, melainkan kopiah haji. Dengan keajaiban tersendiri kopiah berwarna putih itu tidak terlepas dari kepalanya. Padahal sebagai pemain berposisi bek tengah, berkali-kali dia harus menyundul bola untuk mengamankan wilayah kawalan.
Mak Din tidak pernah merampungkan permainan. Pada tiap pertengahan babak kedua dia selalu minta diganti. Kelakarnya, dia harus ke masjid untuk membunyikan pluit panjang.
Perihal waktu bermain ini kami memang tidak pernah menaati aturan FIFA. Babak pertama biasanya antara 40-45 menit. Kadangkala bahkan cuma 30 menit. Babak kedua, pukul berapa pun permainan dimulai, tak peduli berapa menit waktu bermain di babak pertama, penanda akhirnya selalu sama. Suara azan. Suara Mak Din. Tidak ada cerita injury time. Tidak ada kompromi dengan wasit. Begitu terdengar lafaz ‘Allahu Akbar…, Allahu Akbar…’, segenting apa pun permainan harus segera dibubarkan.
Mak Din tidak menikah. Ada selentingan dia pernah beristri dan punya anak. Ada pula yang bilang duda. Mak Din tidak membantah tapi juga tak membenarkan. Tiap kali ada yang bertanya, dia nyengir lebar saja. Pastinya, tiap malam minggu dia akan berpenampilan lebih stedi: bersepatu pansus putih, berkemeja model ketat warna terang; kadang motif bunga kadang garis-garis, dipadu jeans. Rambutnya yang makin menipis, terutama di bagian belakang atas, berminyak Tancho. Tak lupa, diselipkannya sisir di kantong belakang celana itu.
Padahal dia tidak pergi ke mana-mana. Paling jauh duduk di depan kedai Wak Ngah. Ngobrol ngalor-ngidul sambil gitaran bersama pemuda-pemuda pengangguran.
Mak Din ciamik melantunkan dangdut. Suaranya tak merdu-merdu amat. Cenderung serak. Namun cengkoknya mulus meliuk. Perpaduan janggal yang justru membuatnya jadi istimewa. Tak heran jika tiap kali ada kenduri yang mengusung organ tunggal, tuan rumah kerap menahan Mak Din. Ia tak diizinkan pulang sebelum melepas dua tiga lagu. Favoritnya Bekas Pacar dari Imam S Arifin dan Air Mata Perkawinan besutan Mansyur S, meski dia tidak pernah menolak saat para ahli hajat, orang-orang dapur, atau tamu-tamu undangan, meminta Pengadilan Cinta Leo Waldi, atau rock melayu klasik Singapura yang di negeri ini pernah meledak lagi setelah didangdutkan Cici Faramida, Jangan Tunggu Lama-lama.
Selain disebabkan suaranya, panggung-panggung kenduri tersebut juga bertambah semarak karena gaya joget Mak Din yang sungguh-sungguh aduhai.
Setelah bergelar haji perangainya tak banyak berubah. Dia tetap menyanyi dangdut di kenduri-kenduri. Tetap heboh meski goyangnya tak lagi terlalu mengguncang.
“Eh, apa kalian pikir karena pernah ziarah ke makam nabi awak harus berlagak jadi orang suci. Apa karena pernah salat di Masjid Nabawi awak tak boleh nyanyi dangdut lagi,” ucapnya.
Tentu banyak juga yang menyinggung kopiah yang dikenakannya. Sejak pulang berhaji, kopiah berwarna putih itu memang nyaris tak pernah lepas dari kepalanya. Setidaknya hormatilah kopiah itu, kata orang-orang yang menegur. Mendengar ini, Mak Din kerap tertawa, lalu bilang bahwa kopiah cuma benda mati, sama sekali bukan identitas haji.
“Biar kalian tahu, mabrur atau tidaknya haji seseorang bukan diukur dari kopiah di kepalanya. Melainkan dari hatinya. Pergi haji sampai sembilan kali pun kalau hati tetap memelihara dengki dan iri, tak ada gunanya juga. Jadi tak usahlah kalian pening-pening pikirkan kopiah awak ini. Untuk awak sederhana saja alasannya. Awak pakai supaya kelihatan sedikit lebih tampan. Terutama dari arah belakang.”
Ini kalau kami yang menyinggung. Pada Ustaz Marsilam, lain jawabannya.
“Awak cuma goyang-goyang jambu, Ustaz. Sekadar lepas candu,” ucapnya, lalu terkekeh-kekeh, dan Ustaz Marsilam pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Bagaimana Mak Din pergi haji dan membuat sebagian besar kami mengubah sapaannya menjadi ‘Mak Haji’, ‘Wak Haji’, dan belakangan ini ‘Pak Haji’, juga punya cerita tersendiri.
Awal Ramadan sebelas tahun lalu, seorang laki-laki yang tidak kami kenal beberapa kali Tarawih di masjid. Setengah baya, kira-kira 50-55 tahun. Tetap kelihatan perlente meski cuma berkain sarung.
Kami punya satu kebiasaan berkumpul di beranda masjid usai Tarawih. Minum kopi, teh, es sirop, dan menyantap hidangan berbuka yang masih tertinggal sembari mendengarkan Mak Din bercerita. Cerita-ceritanya ini tak melulu baru. Bahkan ada yang sampai beberapa kali diulang. Meski demikian tetap saja kami tergelak-gelak. Selain karena ceritanya, mimik wajah dan cara Mak Din berbicara juga menggelitik.
Paling sering diulang adalah kisahnya di penjara. Mak Din pernah dua kali masuk bui. Sekali sebelum berhaji dan sekali lagi setelah pulang haji. Yang pertama tiga hari, sedangkan yang kedua lima belas hari. Keduanya karena alasan serupa. Dia diadukan warga kompleks seberang kampung yang merasa terganggu oleh suara meriam bambu yang didentumkan anak-anak nyaris tiap malam sepanjang Ramadan. Meriam-meriam bambu ini bikinan Mak Din.
Demikianlah, menurut Mak Din, pascamengetahui dirinya muazin merangkap nazir masjid, narapidana-narapidana yang satu sel dengan dia mendadak berubah religius. Tepatnya, ingin terkesan religius. Mereka mendaulat Mak Din sebagai tuan guru dan membaiat diri menjadi jemaah. Mak Din sempat menolak. Dia menjelaskan, antara muazin, nazir, imam, dan ustaz, masing-masing punya peran berbeda. Sayangnya, para narapidana itu tak mau tahu. Mak Din tetap didaulat sebagai tuan guru, dan sebagai tuan guru, tentu saja, dia harus memberi tausiah.
Di sini letak persoalannya. Tuan guru dan jemaah sama-sama bingung. Melulu karena takut, Mak Din menyampaikan kaji-kaji yang pernah didengarnya dari Ustaz Marsilam. Namun jemaahnya protes. Mak Din menyampaikan kaji tanpa kutipan ayat-ayat Al Quran atawa hadist qudsi. Menurut jemaahnya, tausiah seorang tuan guru harus penuh dengan kutipan ayat-ayat.
“Cobalah kalian bayangkan. Seumur-umur tak pernah awak kasih tausiah. Kalau disuruh main bola atau menyanyi dangdut, picing mata pun awak bisa.”
Seorang di antara kami waktu itu sempat bertanya. Apakah dia tidak bisa membaca Alquran? “Eh, kalau baca tentulah bisa,” sergah Mak Din. “Begini-begini awak sudah khatam tiga kali. Cuma masalahnya, mana, lah, pulak awak hapal luar kepala,” katanya.
Demi keselamatan diri Mak Din melakukan muslihat. “Sebenarnya berdosa juga awak menipu orang, tapi mau macam mana lagi, kawan. Terpaksalah, daripada awak pulak yang dilibas orang-orang itu. Entah macam mana, pas genting-gentingnya, mendadak terlintas di kepala awak lagu Magadir. Sengaja awak fasih-fasihkan supaya kedengaran menyakinkan. Tahu kalian, ternyata orang-orang itu percaya. Tiap tausiah selesai, ramai-ramai dicium orang itu tangan awak. Aman awak dalam penjara. Makan enak. Tidur enak.”
Lelaki perlente selalu berada di antara kami saat Mak Din berceloteh dan ikut tertawa-tawa. Di malam takbiran, dia datang menemui Mak Din dan menyerahkan berkas-berkas kelengkapan menunaikan haji atas nama Zainuddin untuk berangkat di tahun yang sama.
Namun itulah pula kali terakhir kami melihatnya. Beberapa orang yang agak sering membaca koran dan nonton berita di televisi, samar‑samar ingat, sekitar 10 tahun sebelumnya ada lelaki yang wajahnya mirip laki-laki itu dibui lantaran korupsi.
Apa hukum berhaji pakai uang hasil korupsi? Perdebatannya pasti akan panjang dan cuma bikin kepala jadi berdenyut-denyut dan karena itu sebaiknya memang tidak usah diceritakan di sini. Mak Din sendiri juga tak mau ambil peduli.
“Yang penting bukan awak yang korupsi,” katanya seraya terkekeh panjang.
***
Kabar kematian Haji Zainuddin menyebar cepat. Belum tengah hari pelataran masjid telah sesak. Orang-orang dari kampung-kampung sebelah juga berdatangan. Pun orang-orang kompleks seberang yang pernah dua kali mengirim Haji Zainuddin ke penjara.
Begitulah pada dasarnya memang hampir tak ada yang tidak menyukai Haji Zainuddin. Sampai hari kematiannya, barangkali hanya satu perkara yang pernah membuat dia berada pada posisi dibenci. Itu pun bukan benci yang sebenar-benarnya benci. Hanya sebangsa kemarahan sesaat. Itu pun oleh orang-orang tertentu saja. Mereka menuding Haji Zainuddin munafik lantaran menolak ikut dalam ramai-ramai aksi membela agama dari penistaan yang dituding dilakukan seorang laki-laki yang saat itu menjabat gubernur di satu kota yang letaknya jauh sekali dari kampung kami. Kota yang oleh sebagian besar kami hanya pernah dilihat di televisi.
“Awak pilih berdoa saja. Allah lebih tahu dari kita yang tak seberapa berilmu dan belum tentu pula beriman. Tak perlu kita desak-desak Allah untuk menghukum,” ujarnya.
Suasana sempat panas meski tak lama. Orang-orang yang berseberangan pendapat dengan dia tidak punya celah memprovokasi, sebab lebih banyak yang yakin dan sungguh-sungguh percaya bahwa Haji Zainuddin memang sama sekali tidak punya kepentingan dalam silang-sengkarut politik. Dia bukan pendukung kubu ini dan kubu itu. Bukan pembela politisi ini atau politisi itu. Politik tidak pernah masuk dalam hitungan Haji Zainuddin. Sepanjang hidupnya, dia hanya tertarik pada dangdut dan sepak bola.
“Cuma satu, lah, yang awak mohonkan sama kalian. Nanti kalau awak mati, janganlah pulak gara-gara persoalan ini tak kalian salatkan awak. Memang, masih ada Si Sadat friend kental awak. Pasti mau dia. Masalahnya awak yang tak mau. Tak beres bacaan dia. Nyasar pula nanti awak ke neraka,” katanya.
Begitulah, pada akhirnya memang bukan Anwar Sadat, tetapi Ustaz Marsilam yang jadi imam salat. Makmum meluber sampai ke luar masjid. Sampai ke teras, sampai ke pekarangan, hingga para remaja masjid harus mendirikan tenda-tenda tambahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah kampung kami.
Pidato belasungkawa yang disampaikan sejumlah tokoh warga juga bertabur gelak tawa. Alih-alih menyampaikan kenangan yang menerbitkan keharuan dan air mata, tiap-tiap yang mendapat kesempatan berpidato justru menceritakan ulang pengalaman mereka yang berkenaan dengan kejenakaan-kejenakaan Haji Zainuddin.
Gelak tawa berlanjut saat mengantar jenazah. Tidak ada yang bersedih. Tidak ada air mata. Tidak ada pergantian orang-orang yang jadi pemanggul keranda, dan kami, merasa sampai di pekuburan jauh lebih cepat dari biasanya.
Medan, 2017-2020
Dimuat Solo Pos
Minggu, 25 Oktober 2020