Politisi (Memang Banyak yang) Sontoloyo

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi), entah memang kelepasan omong, jengkel, lantaran sudah terlampau kesal pada ingar-bingar politik Tanah Air yang melesat-lesat tak karuan, melempar satu kata yang kedengaran menyentak: sontoloyo.

Disebut ‘kelepasan omong’ karena Jokowi semestinya bisa memperhitungkan kata ini sungguh potensial menjadi bahan gorengan baru, dan sejauh ini, memang demikian.

Tengoklah ke media sosial. Kata ‘sontoloyo’, dengan berbagai perlakuan, justru digunakan untuk menyerang balik Jokowi. Ada yang menyebut tak pantas seorang kepala negara melontar kata ini di depan umum. Ada juga yang terkesan memaklumi, tetapi sesungguhnya tetap bermaksud menyerang –dengan olok-olok: Jokowi (barangkali) sedang stres dan tertekan.

Di luar media sosial hiruk pikuk tak kalah dahsyat. Pihak-pihak berseberangan maupun yang satu kubu dengan Jokowi ramai-ramai buka suara. Saling berhadapan adu kuat cocot. Kata ‘sontoloyo’ mendadak jadi ‘kata pencarian’ (key word) populer di Google, saling sela-menyela dengan kata ‘bendera’.

Sebegitu gawatkah? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘sontoloyo’ bermakna sama dengan ‘konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian)’. Dari ketiga makna ini, makna mana yang lebih tepat dikaitkan dengan pernyataan presiden? Apakah ‘konyol’, apakah ‘tidak beres’, apakah ‘bodoh’, atau ketiganya sekaligus?

Sebelum bergeser lebih jauh, disebabkan Jokowi orang Jawa, rasanya penting pula untuk menelaah makna kata ‘sontoloyo’ dalam bahasa Jawa, yang ternyata bisa dilihat dari dua sudut pandang, harfiah dan filosofis.

Secara harfiah, ‘sontoloyo’ merupakan kata sebutan untuk profesi, yakni penggembala itik atau bebek. Apakah ini ‘sontoloyo’ yang dimaksud Jokowi? Saya kira tidak. Saya kira, ‘sontoloyo’ yang dia maksudkan adalah sontoloyo dalam pengertian bahasa Indonesia, tetapi tidak sepenuhnya. Saya kira, dia juga hendak mendekatkannya dengan ‘sontoloyo’ dalam filosofi Jawa.

Jadi tidak berhenti pada pengertian kulit luar. Bahwa hidup di dunia sekadar mampir untuk minum. Urip iku mung mampir ngombe. Hidup yang sebentar harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang memiliki nilai guna. Bukan malah melakukan perbuatan konyol, tidak beres, dan bodoh. Sebab dengan begitu akan jadi sontoloyo.

Jika memang berangkat dari filosofi ini, maka boleh dikata, apa yang dikemukakan Jokowi sesungguhnya jauh lebih keras daripada yang diributkan. Jokowi bukan cuma menyebut politisi-politisi yang disasarnya sebagai orang-orang konyol, tidak beres, dan bodoh. Lebih jauh dia juga sedang mengidentifikasi mereka sebagai orang-orang yang hidupnya di atas dunia telah berjalan dalam kesia-siaan.

Betapa politik telah gagal membuat hidup yang sebentar jadi lebih berkualitas. Sebaliknya, justru menjebak mereka hingga terkendalikan sepenuhnya oleh nafsu untuk mewujudkan keinginan-keinginan duniawi.

Politik hakekatnya lahir dari proses menyusun distribusi posisi dan kekuasaan untuk menyeimbangkan ketertiban dan anarki. Dalam proses ini terdapat ideologi dan moral. Tanpa keduanya, politik hanya satu gelanggang adu kuat dan adu cepat menuju kursi kekuasaan. Pengabdian dan loyalitas pada rakyat cuma lelucon. Demi kekuasaan kesungkanan ditepikan. Demi kekuasaan tak sungkan melakukan segenap daya upaya, termasuk bermuslihat kotor yang mengangkangi nurani, akal sehat, dan kemanusiaan. Intrik, teror, tidak ada lagi ideologi. Pun sekiranya ada, ideologi tersebut tidaklah benar-benar mendarah daging sebab seluruh tindak tanduk mereka, aktivitas mereka, hanya dimotivasi oleh satu perkara: kursi jabatan.

Maka kemenangan dalam pertarungan politik menjelma poin yang maha penting. Kemenangan adalah segala-galanya. Kekalahan dipandang sebagai aib besar, penghinaan besar, dan karenanya mesti bisa dibalas, lantas membalikkannya jadi kemenangan.

Tentu saja identifikasi semacam ini akan banyak yang menyanggah. Jokowi sudah mengalaminya. Wajar, karena memang tidak ada yang berkenan disebut sontoloyo. Namun kalau mau jujur-jujuran, siapapun pada dasarnya sama-sama paham betapa penyanggahan hanya akan jatuh jadi kenaifan yang menggelikan.

Belum percaya? Cobalah luangkan waktu Anda untuk mencari tahu. Buka saja Google, lalu temukan nama politisi yang sudah berkali-kali periode menjadi wakil rakyat. Dapatkah Anda menemukan buah pikir mereka yang betul-betul bermanfaat bagi rakyat yang memilihnya?

Menyebut tidak ada sama sekali tentunya juga tak benar. Tentu ada buah-buah pikir mereka yang bermanfaat. Tentu ada politisi-politisi yang memilih mengabdi dan loyal pada rakyat. Hanya saja, apabila dilakukan pembandingan, persentase yang disebut terakhir sangat kecil. Mereka menjadi golongan minoritas.

Padahal kita sama-sama tahu pula, sebelum terpilih, sebelum duduk di kursi empuk di ruang-ruang rapat yang sejuk dan berbau harum, kemulukan-kemulukan yang ditawarkan para mayoritas sungguh tiada berbilang aduhainya. Mereka mendaku diri paling merakyat, paling nasionalis, dan yang paling celaka, paling moralis. Ironis, sebab atas pengingkaran terhadap produk-produk imagology ini, setahu saya, belum pernah ada yang meminta maaf.

John Simons, doktor di Leeds Trinity University, lewat Ideology, Imagology, and Critical Thought: The Impoverishment of Politics, artikel yang terbit di Journal of Political Ideologies tahun 2010, mendefenisikan imagology sebagai cara (atau gerakan?) untuk menciptakan atau membentuk cita rasa dan perubahan opini –sikap, stereotip, dan prasangka– dengan menggunakan serangkaian representasi visual dan naratif.

Agar berhasil, pelaksanaan imagology mesti melibatkan setidaknya tiga pihak lain, yakni tim sukses (staf ahli, manajer kampanye, sampai spin doctor), penyedia dan perancang visual (seniman/pelaku seni rupa, fotografer, animator, hingga desainer), serta agensi periklanan.

Makin ke sini, imagology seperti inilah yang berkembang dan terus menguat. Muncul pertanyaan lain. Kenapa imagology mendapat tempat di panggung politik Indonesia?

Ini kasus menarik. Para penggeber imagology memanfaatkan anamoli sikap rakyat (pada dasarnya bukan cuma di Indonesia) yang membenci narsistik, tetapi sekaligus, diam‑diam maupun terang‑terangan, kerap mengangankan dan mengidam‑idamkan kesempurnaan: lelaki sempurna, perempuan sempurna, suami istri sempurna, pemimpin sempurna, pahlawan sempurna. Di tingkatan akut, penganganan dan pengidam‑idaman ini tak lagi berhenti pada titik menerima yang tersedia. Mereka akan menciptakannya melalui upaya‑upaya rekayasa yang di era sekarang, era media sosial, memang makin mudah dilakukan.

Begitulah, kesontoloyoan di panggung politik bukan lagi temuan baru yang mengejutkan. Sebaliknya, merupakan kesahihan, rahasia umum yang sudah termaklumkan bahkan jauh sebelum Iwan Fals menciptakan dan menyanyikan lagu Wakil Rakyat yang masyhur itu. Jadi, tidak perlu pura-pura terkejut.

 

Dimuat Harian Analisa
Sabtu, 3 November 2018
http://harian.analisadaily.com/opini/news/politisi-memang-banyak-yang-sontoloyo/643434/2018 /11/03

Politik Indonesia dan Perkara-perkara yang Jenaka

Badut

KASUS kebohongan Ratna Sarumpaet membuat panggung politik Indonesia yang jenaka jadi makin jenaka. Yakni kejenakaan yang serba mengenaskan dan karena itu menjengkelkan. Bukan hanya mereka yang berada di atas panggung. Orang-orang yang berseliweran di seputaran panggung, para penonton, juga makin menunjukkan bakat serupa. Beberapa di antaranya bahkan jauh lebih jenaka, padahal mereka sama sekali bukan komedian.

Ini ambiguitas yang kompleks. Secara teoritis, melawak tak mudah, tetapi faktanya negeri kita melahirkan lebih banyak pelawak dibanding, misalnya, ilmuwan. Apakah buruk? Bisa buruk bisa tidak, tergantung dari sisi mana memandangnya. Namun satu yang pasti, humor dan kejenakaan yang merupakan modal para komedian memang bukan hal yang bisa dipandang remeh. Humor dan kejenakaan, sebaliknya, harus disikapi serius agar berhasil.

Dalam tulisan berjudul “Humor Itu Serius” yang dimuat Harian Kompas pada 9 Agustus 1977, Arwah Setiawan, memaparkan teori‑teori tentang humor yang alih-alih menghadirkan tawa justru membikin kening jadi berkerut. Menurut Setiawan, humor tidak berhenti setelah tawa meledak. Humor bisa berumur lebih panjang, memberi pengaruh, karena memiliki daya guna sebagai kritik sosial, di mana dia berfungsi memperbaiki kekeliruan dan melepaskan ganjalan.

Paparan Setiawan selaras pendapat Arthur Koestler, penulis Inggris kelahiran Hungaria, yang menyebut kedudukan humor setara dengan ilmu pengetahuan dan seni dalam tiga wilayah kreativitas. Alasan Koestler, ketiganya sama‑sama mencari analogi tersembunyi, walau kemudian berakhir dengan cara berbeda.

Satu di antara humor paling populer dan paling banyak mendapat sambutan adalah humor politik. Bob Hope, komedian Amerika Serikat, menyebut humor politik adalah bagian penting dari demokrasi. Pada tahun-tahun akhir Perang Dunia Kedua (1939-1945), humor-humor politik Hope menjadi warna tersendiri dari peristiwa mengenaskan itu. Lelucon-lelucon Hope merangsek, lalu mengemuka sebagai opini berbeda yang memberi masyarakat sudut pandang lain dalam melihat perang. Tahun 1974, saat Watergate, mega skandal yang sedang dikupas Washington Post ramai diperbincangkan, Hope juga ikut berpendapat. Kalimatnya yang satir, “Watergate gave dirty politics a bad name“, mendapatkan tempat dalam sejarah Amerika Serikat selain kejatuhan Richard Nixon.

Setelah era Bob Hope, humor politik kian kencang berkibar melalui nama-nama seperti Woody Allen, Robin Williams, Lewis Black, Jerry Seinfeld, Whoopi Goldberg, Ellen DeGeneres, atau Amy Schumer. Pada musim kampanye Presiden Amerika edisi mutakhir yang dimenangkan Donald Trump, humor politik melesat-lesat di berbagai acara televisi. Berdasarkan survei perusahaan analisa siaran televisi Jumpshot, pada hari-hari menjelang pencoblosan, warga Amerika Serikat justru meninggalkan acara-acara debat serius dan beralih ke bincang-bincang satire. The Late Show with Stephen Colbert berada di peringkat pertama, disusul The Daily Show with Trevor Noah dan The Tonight Show with Jimmy Fallon.

Dari dalam negeri ada Warkop (Rudi Badil, Nanu Mulyono, Kasino Hadiwibowo, Wahjoe Sardono, dan Indrodjojo Kusumonegoro) yang memulai jejak mereka sebagai komedian politik lewat program obrolan yang serba ugal-ugalan di Radio Prambors. Kemudian bisa dicatat nama Teater Koma, Butet Kertarajasa, dan yang terkini, Pandji Pragiwaksono dan Lies Hartono alias Cak Lontong. Namun pencapaian tertinggi humor politik Tanah Air sesungguhnya justru datang dari level politik paling tinggi pula, yaitu Presiden Republik Indonesia, presiden keempat, KH Abdurrahman Wahid.

Gus Dur, sapaannya Kyai Wahid, memang punya selera humor kelas wahid. Darinya lahir sangat banyak humor politik yang cerdas, canggih, dan melegenda saking lucunya. Gus Dur bahkan tetap melawak dalam keseriusannya. Silakan periksa buku kumpulan kolomnya yang bernas, Melawan dengan Lelucon (2000)

Persoalannya, yang lebih sering mengemuka di negeri terkasih kita hari-hari belakangan bukanlah humor politik model begini. Bukan kejenakaan yang lahir dari landasan emosi yang terkendali dan terkalkulasi. Sebaliknya, emosi yang mendasarinya sangat agresif, liar, dan berakibat tak lagi menjadikan logika sebagai tolok ukur. Humor, lelucon, “segila” apapun tetap harus berpijak pada landasan ini, tak boleh ngawur.

Sekarang yang menyeruak justru kengawuran-kengawuran. Justru logika-logika yang terjungkirbalikkan. Kebohongan Ratna Sarumpaet menjadi komoditi yang aktobatik. Ratna jelas-jelas berbohong dan ini sudah diakui secara terbuka. Namun kemudian, kebohongan ini dikemas sedemikian rupa, dipilin pelintir, dikocok, dilambung-lambungkan, hingga terkesan setara dengan hal lain yang diyakinkan tiada kalah gawatnya, yakni janji-janji kampanye Jokowi. Janji-janji belum terwujud yang sebelumnya telah dimunculkan melalui beragam meme. Kebohongan Ratna yang sifatnya personal disebut tidaklah seberapa aduhai dibanding kebohongan Jokowi.

Perkembangan kasus ini, yang membuat sejumlah orang yang ditengarai menyebarkan kebohongan terancam ikut diperiksa polisi dan termungkinkan mendapat sanksi hukum, memperlebar cakupan kengawuran. Para pencetus kengawuran menyebut orang-orang yang menyebarkan kebohongan sebagai korban Ratna Sarumpaet. Dengan demikian, apabila mereka mendapat hukum, maka seluruh rakyat Indonesia juga harus dihukum lantaran telah termakan kebohongan Jokowi.

Kubu Jokowi, atau barangkali katakanlah pihak-pihak yang secara sadar menempatkan diri sebagai pendukung dan akan memilih Jokowi di Pemilu Presiden 2019, tentu saja tidak mau kalah. Kengawuran perihal kebohongan dijawab dengan ide mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai Hari Antihoaks Nasional. Tanggalnya 3 Oktober, yaitu tanggal di mana Ratna Sarumpaet membuat pengakuan dan menyebut kebohongannya antara lain terjadi karena dia dibisiki setan. Ratna sendiri diberi gelar Ibu Hoaks Indonesia.

Begitulah, persis tingkah polah Lloyd Christmas dan Harry Dunne dalam Dumb and Dumber, kubu-kubu yang saling berseteru memang sudah sepenuhnya kehilangan kesungkanan untuk memamerkan ketololan. Mereka membuat kejenakaan-kejenakaan yang seyogianya masih potensial menerbitkan tawa itu jadi kehilangan greget dan sama sekali tak lucu.

 

Dimuat Harian Analisa
Kamis, 25 Oktober 2018
Halaman 20

Dimuat juga di http://www.analisadaily.com
http://harian.analisadaily.com/opini/news/politik-indonesia-dan-perkara-perkara-jenaka/638868/ 2018/10/25

Film G30S PKI Reborn untuk Generasi Z

PKI movie1

SATU film yang urgen dan karenanya mesti segera diproduksi adalah Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI Reborn. Tanpa film ini, generasi Z, generasi harapan bangsa setelah era cebong versus kampret berlalu, akan menambah panjang daftar generasi yang mengekori kesepakatan dan kesepahaman satu pintu perihal komunisme dan PKI. Tanpa film ini, tak ada peluang studi yang lebih terbuka, studi yang tidak lagi dibatasi oleh koridor baku dan pantang diganggu-gugat.

Generasi Z, atau kerap pula disebut Post-Millennials atau IGeneration atau Mutan Generation, adalah generasi yang lahir pada tahun-tahun pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Artinya, saat Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang diproduksi tahun 1984 diputar untuk kali terakhir di stasiun-stasiun televisi nasional pada malam 30 September 1997, mereka rata-rata baru berusia dua tahun. Terlalu muda untuk menonton film politik serba serius berdurasi 270 menit.

Lebih muda dari mereka adalah generasi Alpha. Kelompok ini merupakan turunan pertama generasi Milenial, lahir tahun 2010 ke atas dan bakal menjadi kelompok paling dominan dan berpengaruh mulai tahun 2025.

Tahun lalu, seturut pro kontra yang riuh dan sengit di media sosial, sejumlah stasiun televisi kembali memutar Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI. Berbagai kalangan bahkan menggelar nonton bareng. Pertanyaannya, apakah generasi Z dan generasi Alpha Indonesia ikut dalam gelombang ini?

Mungkin tidak untuk generasi Alpha. Mungkin iya, mungkin juga tidak untuk generasi Z. Walau menurut survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal II 2016 yang dilakukan di 11 kota, televisi masih termasuk satu di antara tiga media utama yang mereka konsumsi, tak dapat dipungkiri juga bahwa generasi Z belakangan justru makin tak akrab dengan televisi konvensional. Mereka cenderung memilih televisi internet, live streaming, atau streaming video. Apakah mereka menonton Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI di platform ini?

Kemungkinannya kecil. Pertama, rata-rata generasi Z menyukai konten-konten hiburan, gaya hidup, percintaan, petualangan, olahraga, dan komedi. Mereka tidak terlalu tertarik pada sejarah dan politik, apalagi sejarah berbalut politik. Komunisme pula. Ideologi usang yang sejak mereka lahir di negeri ini sudah jadi barang terlarang.

Kedua, sebagai generasi yang terlahir di era digital, hari-hari generasi Z nyaris selalu terkoneksi dengan internet. Mereka beraktivitas di sana, bergaul di sana, berinteraksi, mencari kesenangan-kesenangan, juga memperdalam pengetahuan. Hal-hal apa saja yang membuat mereka tertarik, bakal jadi pencarian favorit di laman-laman pencarian seperti google dan yahoo. Sampai di sini muncul pula pertanyaan, apakah mereka tertarik pada Komunisme di Indonesia, khususnya PKI?

Generasi Z sedikit banyak menggemari kontroversi. Rasa penasaran mereka besar. PKI dan segenap silang sengkarut yang mengiringinya adalah kontroversi juga. Kenapa tidak kunjung mati padahal sudah dibunuh berkali-kali? Apakah PKI memang begitu sakti?

Dari sisi ini seyogianya Komunisme dan PKI berpotensi jadi sorotan generasi Z, hingga dapat mengerucut kepada perbincangan-perbincangan yang memungkinkan hadirnya pemikiran atau bahkan tafsir baru. Iya, memang hanya pada generasi Z-lah harapan bisa diapungkan. Sebab jujur saja, suka tak suka, sebagian besar pemikiran orang-orang dari generasi baby boomers, generasi X, dan bahkan Y (Milenials) Indonesia, terlanjur terkotakkan oleh dokrin penafsiran tunggal atas peristiwa itu.

Sayangnya tidak demikian. Harapan masih jauh sekali. Sebaliknya, yang lebih termungkinkan terjadi sekarang adalah pembingungan yang berkelanjutan. Di internet, generasi Z bisa dengan mudah mencari segala sesuatu mengenai Komunisme dan PKI. Tak terkecuali artikel, jurnal, buku, dan film-film yang pernah dan masih dilarang edar di Indonesia. Contohnya The Year of Living Dangerously, 40 Years of Silence, Shadow Play, Act of Killing (Jagal), Look of Silence (Senyap), dan Pulau Buru Tanah Air Beta.

Andai generasi Z menonton film-film ini, lantas juga menonton Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI, maka tidak ada yang benar-benar bisa mereka jadikan pegangan untuk mendapatkan jawaban pembanding, kenapa film versi pemerintah kontradiktif dengan film-film lainnya?

Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI garapan Arifin C Noer memang melulu bicara dari sudut pandang pemerintah. Lewat bahasa filmis yang di beberapa bagian sesungguhnya ciamik, Arifin menarik garis yang tegas: komunisme dan PKI adalah pihak-pihak yang dipersetankan dan oleh sebab itu halal untuk ditumpas habis. Soeharto dikedepankan pahlawan terbesar, penyelamat negara. Sedangkan film-film lain menyorot peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965, serta peristiwa-peristiwa lain yang mengikutinya, dari sisi yang bertolak belakang. Sepenuhnya menempatkan PKI, juga para anggota dan simpatisannya dan pihak-pihak lain yang terkaitpaut dengannya, sebagai korban. Jadi, sampai di sini, siapa yang benar?

Sejak 1984 hingga pemutarannya yang terakhir di televisi pada malam 30 September 1997, tidak ada yang berani menggugat film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI. Tak seorang kritikus berani buka suara. Semua menerima, tutup mata tutup telinga, bahkan mengganjarnya dengan Piala Citra.

Setelah rezim Orde Baru jatuh, setelah kekuasaan Soeharto berakhir dan film ini tidak lagi diputar di televisi, barulah gugatan datang. Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI ramai-ramai dikritik, disebut sebagai alat propaganda rezim Orde Baru untuk pembenaran atas tindakan menghabisi lawan-lawan politik, terutama sekali PKI yang pada era itu sempat sangat kuat. Namun alih-alih mencerahkan, alih-alih melakukan upaya pelurusan sejarah, pemerintah justru memilih bungkam, membiarkan silang sengkarut pendapat bergulir liar.

Tahun ini sejumlah pihak tetap menyuarakan pemutaran Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI. Menyuarakan digelarnya nonton-nonton bareng. Walau geliat pro kontranya relatif lebih adem dibanding tahun lalu, film ini telah diputar kembali, yang entah ditonton entah diabaikan oleh generasi Z. Sekiranya menonton, hampir dapat dipastikan mereka mengakhiri tontonan itu dengan pengertian atas sejarah bangsa yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Kecuali barangkali terhadap satu hal. PKI memang belum mati. Sebab pascadibunuh 53 tahun lalu mayatnya tidak pernah ditemukan.(*)

Dimuat Harian Analisa
Jumat, 5 Oktober 2018
Halaman 20

Siapa Pembunuh Mira Marcela?

siapa-pembunuh-mira-marcela-618568-1SUPAYA tidak jadi membingungkan kuberitahu kepadamu bahwa Mira Marcela, Anamira Isnaini Khadijah, dan Nur Asiah Jamil, adalah nama orang yang sama. Nur Asiah Jamil nama lahir. Anamira Isnaini Khadijah nama pengganti dan tertera di KTP dan berbagai kartu identitas dan nama inilah yang kau baca di halaman-halaman koran sejak beberapa hari lalu.

Nama Nur Asiah Jamil sudah barang tentu akan membawa ingatan pada qoriah dan biduan nasyid Indonesia termasyhur di era 1970–1980an. Menurut Mira Marcela, ayahnya, Haji Zainuddin, memang kagum kelewat besar pada pemilik suara emas tersebut hingga ketika isterinya melahirkan bayi perempuan tanpa pikir panjang mencaplok namanya bulat-bulat.

“Aku binti Zainuddin, bukan binti Jamil. Begitupun aku masih bersyukur. Masih sedikit lebih baik. Bisa kalian bayangkan, bagaimana kalau sampai Mbak Tutut yang membuat bapak tergila-gila. Bisa-bisa namaku Siti Hardiyanti Indra Rukmana,” katanya, lalu tertawa panjang.

Tidak lama nama ini disandangnya. Cuma empat tahun lebih beberapa bulan. Dia sering jatuh sakit dan konsultasi ayahnya ke orang-orang pintar dan orang-orang alim menghasilkan identifikasi persoalan: namanya kelewat berat dan mesti diganti.

Kenapa Haji Zainuddin memilih Anamira Isnaini Khadijah dan apa makna di baliknya, aku tidak tahu. Mira tak pernah bercerita. Pastinya, dengan nama ini dia sempat menapak di jalan yang pernah dijejaki Nur Asiah Jamil. Sampai usianya menyentuh angka 16, dia meraih 78 tropi MTQ dan sejumlah penghargaan lainnya. Pula sulit dihitung berapa kali dia mengaji di acara ceramah agama, wiridan, ulang tahun, pernikahan, sampai peresmian toko atau kantor.

Namun dua tahun kemudian Anamira Isnaini Khadijah justru lebih dikenal sebagai pedangdut. Dia merantau ke Jakarta dan mengganti namanya menjadi Mira Marcela. Bagaimana belokan tajam ini bisa terjadi dan membuat Haji Zainuddin tega melempar kutuk, tak lagi mengakuinya sebagai anak, tidak kalian temukan di sini. Barangkali akan kuceritakan lain waktu. Di sini aku cuma ingin bilang bahwa entah karena kutuk itu atau memang ada sebab lain yang lebih sahih, persis di hari ulang tahunnya ke 29, Mira Marcela memutuskan mengubur mimpi-mimpinya di panggung dangdut. Dia tak lagi sanggup menyaingi pedangdut-pedangdut muda yang berpantat serba semok dan berdada sentosa yang di atas panggung nekat melakukan apa saja untuk memukau penonton.

Maka berbekal simpanan Rp 5 juta yang diserahkannya pada seorang calo TKI, Mira Marcela –bersama 114 perempuan lain– masuk Malaysia lewat pelabuhan gelap di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Dari Jakarta mereka diangkut bus. Janji calo itu, Mira Marcela akan bekerja sebagai penyanyi tetap di satu kafe milik pengusaha asal Semarang di Kuala Lumpur.

Tentu saja dia kena tipu. Setelah disekap empat bulan 12 hari di satu gudang, Mira Marcela dipekerjakan di pabrik pembuatan sekrup di seputaran Shah Alam, Selangor. Kurang lebih setahun berselang dia mendapat pekerjaan lain sebagai pembantu rumah tangga. Gajinya per bulan 1100 ringgit ditambah jatah makan tiga kali sehari. Dalam sepekan dia diberi libur 24 jam penuh. Akan tetapi nasibnya tak beranjak lebih baik. Mira Marcela tiga kali nyaris diperkosa. Masing-masing sekali oleh majikan lelaki, sekali oleh sopir, dan sekali oleh anak majikan yang belum genap berusia 15. Gajinya juga kerap ditunggak dan dipotong untuk kesalahan-kesalahan menggelikan.

Sampai kemudian seorang banci, seorang mucikari, dan seorang penjual jagung bakar di trotoar Jalan P Ramlee (majikan perempuan sering mengajaknya ke diskotek The Beach untuk menemani berdisko semalam suntuk), membantunya melarikan diri. Lantaran caranya kelewat rumit dan cenderung bertele-tele, bahkan sampai menciptakan drama percintaan segi empat segala, kupikir bagian ini juga tak perlu diceritakan di sini.

Mira Marcela kembali ke Indonesia. Tadinya dia berniat langsung pulang ke kampungnya, satu desa kecil di Raba, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun diurungkan. Dia berbelok ke Medan.

Saat masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga Mira Marcela pernah beberapa kali bercakap-cakap dengan tetangga majikannya. Seorang perempuan muda, Tionghoa, masuk Islam setelah dinikahi pemuda Melayu sebelum sempat menyelesaikan kuliah di University of Malaya. Entah didorong solidaritas kebangsaan atau memang sungguh-sungguh prihatin pada nasib Mira Marcela, perempuan ini menawarinya bekerja di kedai kopi di kawasan Kota Tua yang dimiliki pamannya. Seolah paham betapa semangat menyanyi Mira Marcela sesungguhnya tak pernah padam, perempuan ini juga bilang pamannya mengelola band yang sering diundang mengisi berbagai acara yang digelar pengusaha dan pejabat-pejabat di Medan.

Berkat lobinya Mira Marcela diterima bekerja. Tugasnya mencatat dan mengantarkan pesanan. Dia cekatan dan ringan tangan. Meski tak wajib baginya, tiap kali pengunjung sedang sangat ramai, dia selalu membantuku meracik kopi atau membuat roti bakar. Kopi dan roti bakarnya dipuji bercita rasa nikmat.

Waktu itu usianya 33. Tujuh bulan berselang, pada satu petang menjelang malam yang masih menyisakan gerimis tajam, seorang remaja tukang semir sepatu bernama Ujang Rambo menemukannya tertelungkup tak bernyawa di gang sempit di belakang kedai. Tubuhnya dibungkus jas hujan berwarna coklat muda. Kepalanya disungkup rambut palsu pirang. Terdapat sejumlah tanda kekerasan pada tubuhnya. Diduga kuat, dia juga diperkosa.

Tadinya aku bermaksud memulai cerita dari sini. Namun kukira ada baiknya kujelaskan sedikit perihal riwayat Mira Marcela, sekadar supaya kalian percaya betapa kadangkala hidup bisa berjalan dengan cara-cara yang ajaib dan serba menjengkelkan.

Rahmat Yanis, polisi berpangkat Brigadir Kepala, seorang di antara polisi yang menangani kasus kematian Mira Marcela, membawaku ke salah satu adegan puncak Chungking Express. Menit 38 detik 25, saat perempuan berambut palsu pirang meletuskan pistol ke kepala lelaki bandar heroin. Menurut dia, dalam kasus ini, pelaku melakukan rekonstruksi terbalik.

Aku tak begitu paham maksudnya. Bahkan setelah menontonpun tetap gagal paham. Terus terang, aku tidak suka film ini. Menontonnya membuatku jadi  teringat pada Mira Marcela. Betapa sulit dipercaya dia mati dengan cara begitu rupa.

Selang 24 jam pascapenemuan mayatnya, polisi menahan Ujang Rambo dan Awang Wijaya, adik pemilik kedai.

“Motifnya dendam karena hasrat pada korban tak kesampaian,” ujar Rahmat Yanis.

Cerita seperti ini sebenarnya sudah terlalu umum. Banyak di antara pelanggan kedai kopi menyimpan hasrat serupa. Termasuk Rahmat Yanis. Bukan tanpa alasan belakangan ini dia makin rajin datang ke kedai lalu duduk ngopi berlama-lama. Mira Marcela pernah bercerita betapa sering Rahmat Yanis menggodanya.

“Bapak itu suami orang, Bang. Aku tahu anaknya empat, masih kecil-kecil. Aku nggak mau jadi perusak rumah tangga orang,” katanya.

Namun dari semua pemuja Mira Marcela, cuma Awang yang tak sungkan berterus terang. “Piye? Gelem opo ora?” ucapnya, lalu matanya mengedip nakal. Meski sudah berkali-kali dijelaskan, Awang tetap saja menganggap Mira Marcela orang Jawa.

Sejumlah fakta membuat aku meragukan teori Rahmat Yanis. Mira Marcela mampu bertahan hidup di panggung dangdut dan selamat dalam penyekapan berbulan-bulan. Dia juga lolos dari tiga percobaan pemerkosaan. Jadi siapapun pelakunya, menurutku, pastilah punya semangat dan kekuatan besar untuk menghabisi, dan aku sungguh yakin pula, Awang tak masuk golongan ini. Dua tahun lalu dia dihantam stroke yang membuat tubuhnya mati sebelah. Walau kemudian membaik, ada bagian-bagian yang tak lagi berfungsi seperti sediakala. Godaan-godaannya pada Mira Marcela, saya kira, sekadar iseng atau mungkin juga semacam upaya menghibur diri.

Ujang Rambo bertubuh tinggi dan bongsor meski baru berusia 14. Dari sisi ini dia pantas dicurigai. Persoalannya, Ujang punya alibi kuat. Hasil visum seperti disiarkan koran-koran menunjukkan Mira Marcela tewas sekitar 12 jam sebelum ditemukan. Kemungkinan, pembunuhan terjadi antara lepas tengah malam hingga menjelang Subuh. Di waktu yang sama, Ujang Rambo bersamaku. Kami bermain catur, dan seingatku, sampai pertarungan berakhir di pelat kesepuluh, dia hanya keluar kamar tiga kali. Dua kali untuk kencing dan sekali untuk membikin kopi kami berdua. Mustahil dia membunuh –dan sekaligus memperkosa(?)– dalam tempo sesingkat itu. Apalagi mendandani Mira Marcela menyerupai Brigitte Lin.

Ujang Rambo juga bukan sebangsa orang yang menonton film untuk mencermati cerita. Dia benar-benar hanya peduli pada ledakan, ciprat darah, dan adegan ranjang. Pula demikian Awang yang memuja Ti Lung, Chen Kuan‑tai, Fu-Shen, serta aktris jebolan panggung Opera Kanton seperti Ivy Ling Po. Sedangkan Bruce Lee dan Jacky Chan disebutnya bintang muda yang gesit berkelahi, dan pengetahuannya tentang film berhenti sampai di sini.

Kalian tentu sepakat, orang-orang seperti ini rasa-rasanya tak mungkin mampu secara detail merekonstruksi adegan puncak Chungking Express. Terlebih-lebih dalam bentuk terbalik.

 

****

 

Ada perempuan baru di kedai. Setengah baya bertinggi sedang, berperawakan gemuk, tak pernah lepas dari songkok dan selalu berkain panjang dan riwayatnya dalam mencari nafkah paling banyak dihabiskan dengan berjualan tiwul dan jamu gendong dari kampung ke kampung di Gunung Kidul, Yogyakarta. Namanya Siti Marlena. Dia minta disapa Mak Len.

Tahun 1979, Mak Len pindah ke Medan mengikuti suaminya Partono yang terobsesi bermain untuk PSMS. Namun semangat Partono ternyata jauh meninggalkan bakatnya. Upaya ini kandas. Partono tewas dalam kecelakaan lalu lintas pada 25 Februari 1985. Becak yang dikemudikannya menghajar punggung truk saat dia buru-buru ke Lapangan Merdeka untuk ikut  pesta perayaan keberhasilan Ayam Kinantan menjuarai Kompetisi Perserikatan.

Mak Len bekerja rajin. Untuk ukuran perempuan seusianya terbilang cukup cekatan pula. Terpenting –paling tidak sampai sejauh ini– dia jujur. Sekitar lima menit lalu dia menyerahkan satu unit telepon selular kepadaku.

“Mak nemu di kamar mandi,” katanya.

Yang seperti ini sering terjadi. Biasanya, setelah diteriaki si empunya barang yang sembrono akan mendekat dengan langkah malu-malu. Namun belum sempat aku teriak, telepon selular serahan Mak Len bergetar. Intro yang khas, lalu sebait syair.

 

It’s not everyday we’re gonna be the same way
There must be a change somehow

 

Jantungku serasa copot. Meski tak suka, bayangan Chunking Express masih sangat jelas. Thing in Life, lagu Dennis Brown ini tak banyak dikenal sebelum Wong Kar-wai mencomot dan memperdengarkannya sebanyak empat kali hingga adegan puncak di menit 30:25 itu.

Kusapu pandangan ke sekeliling kedai. Apakah pembunuhnya masih di sini?

 

Kuala Lumpur-Medan-Jakarta, 2013-2018

 

Dimuat Harian Analisa
Minggu, 16 September 2018
Halaman 7

Ini merupakan versi asli. Saat dimuat Analisa, cerpen mengalami sejumlah penyuntingan editor.
http://harian.analisadaily.com/cerpen-rebana/news/siapa-pembunuh-mira-marcela/618568/2018/ 09/16

Didokumentasikan juga di lakonhidup.com, situs pengumpul cerpen-cerpen yang terbit di sejumlah media massa di Indonesia.
https://lakonhidup.com/2018/09/16/siapa-pembunuh-mira-marcela/

 

Pada Hari Kematian Muazin Kami

TERIAKAN kencang Anwar Sadat jadi awal kehebohan di pagi buta itu. Haji Zainuddin meninggal, katanya di sela nafas memburu, sesaat setelah orang-orang yang belum lama beranjak dari masjid usai mendirikan Subuh berjamaah kembali dengan langkah tergopoh.

Tentu saja tak ada yang langsung percaya. Masih sangat segar di ingatan mereka bagaimana Haji Zainuddin membikin dongkol anak-anak remaja masjid yang sedang semangat berdebat perihal sepak bola. Terutama menyangkut klub mana yang akan jadi kampiun di liga-liga top Eropa.

Haji Zainuddin nimbrung. Bilangnya, sepak bola bukan sekadar perkara sepak-menyepak si kulit bundar untuk diceploskan ke gawang. Bukan sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sepak bola sesungguhnya seni merawat harapan. Selain kerja keras dan strategi, dalam satu upaya memburu gelar juara, harapan berperan tak kalah besar.

“Intinya jangan sesekali habis harapan walau klub yang kalian dukung sedang tertinggal poin. Liga belum selesai. Masih ada beberapa pertandingan yang bisa mengubah situasi. Lain cerita kalau kalian suporter Arsenal. Ini benar kekecualian. Sebangsa takdir Tuhan. Bahkan sebelum kompetisi dimulai pun kalian boleh mematikan harapan.”

Tawa meledak. Perdebatan bubar. Anak-anak remaja masjid beringsut menjauh dengan tersungut-sungut. Mereka sebenarnya punya banyak amunisi untuk melakukan serangan balik. Klub sepak bola favorit Haji Zainuddin adalah Manchester United. Di Liga Inggris saat ini, Manchester United yang punya julukan menggetarkan, Setan Merah, belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sebaliknya, justru sinyal buruk yang mengemuka. Kompetisi baru akan memasuki pekan kelima, tetapi dua kekalahan sudah didera. Satu di antaranya bahkan boleh dikata sungguh memalukan. Tak tanggung, mereka dibantai di Old Trafford, stadion keramat yang bertahun-tahun lampau begitu angker bagi lawan mana pun.

Namun anak-anak remaja masjid memilih untuk menahan diri. Sejak lama mereka sudah saling sepakat bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan suporter Manchester United yang bergelar haji. Menang tidak malah kualat.

Haji Zainuddin ikut tertawa, lalu masuk masjid untuk membereskan tugas-tugas rutinnya. Secara resmi Haji Zainuddin adalah muazin. Namun dalam praktik sehari-hari, terutama setelah Tok Jalal nazir lama pindah ke kampung sebelah, dia juga mengerjakan tugas-tugas nazir.

Jadi siapa bisa percaya? Terlebih-lebih penyampai kabar adalah Anwar Sadat. Anak muda ini terlanjur dikenal sebelas dua belas perbandingan tingkat keisengannya dengan Haji Zainuddin. Maka –ini belakangan diketahui– memang sempat melintas kecurigaan di pikiran orang-orang yang kembali itu, bahwa kabar kematian tak lebih dari sekadar kolaborasi akal-akalan Haji Zainuddin dan Anwar Sadat untuk mengisengi mereka. Barulah, setelah melihat sendiri tubuh Haji Zainuddin yang tergeletak, lalu memeriksa nadinya yang memang sudah tidak lagi berdenyut, mereka percaya kematian ini benar adanya.

Innalillahi wa innailaihi raji’un.

***

Haji Zainuddin, lelaki bertampang rusuh tapi berhati teduh. Dulu kami memanggilnya Mak Din. Mak dari ‘Mamak’, paman dalam bahasa Minang dan Mandailing, darah dua puak yang mengalir dalam dirinya.

Mak Din bukan orang pandai agama. Dia tak pernah menuntut ilmu di pesantren atau bahkan sekolah mengaji sekalipun. Tak pernah belajar pada kyai dan tuan-tuan guru. Pada kami dia selalu bilang Islamnya cukup makan saja. Salat lima waktu, mengaji, wirid yasin. Ramadan datang dia puasa. Sahur dan berbuka di masjid. Lalu tarawih. Tadarus? Kadang iya kadang tidak walau dia yang mengurus semua persiapan mulai dari memasang pelantang sampai menyuguhkan kopi untuk sekadar penawar kantuk dan penghangat badan. Mak Din tak berzakat karena justru dialah penerima. Ustaz Marsilam, imam masjid yang juga ketua badan kenaziran, atas persetujuan warga mengizinkan Mak Din tinggal di satu ruangan yang terletak di bagian belakang masjid. Sebelumnya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang.

Setiap hari, sejak lepas Subuh hingga menjelang siang dia bekerja di kedai nasi Marjili Samsuri di Pasar Pagi. Tugas Mak Din sebenarnya cuma mencuci piring-piring dan gelas kotor dan membersihkan meja. Namun dia tak pernah keberatan sekiranya diminta membuatkan kopi atau mengantarkan pesanan ini ke kios-kios pedagang. Apa boleh buat. Kopi bikinannya memang dikenal bercita rasa nikmat. Kental dengan takaran pahit manis yang pas. Mak Din bukan tidak tahu Marjili diam-diam memanfaatkan kebolehannya ini. Istilah kata, kerja dua gaji satu. Namun dia mendiamkannya. Tak apa, hitung-hitung amal, katanya tiap kali ada yang bertanya. Bikin orang senang pahala ganjarannya.

Kedai tutup dia kembali ke masjid untuk Zuhur, lalu tidur selepas bersih-bersih. Tidur ini pun sesungguhnya lebih sering gagal terwujud lantaran ada saja orang datang meminta bantuan. Membetulkan genteng bocor, misalnya, atau membabat rumput pekarangan, menyembelihkan ayam, atau mendirikan tenda untuk kenduri, dan masih banyak lagi. Atas semua ini Mak Din selalu menolak uang. Sebagai ganti, warga yang segan hanya menebus bantuannya dengan ucapan terima kasih, menyuguhkan makan siang, panganan kecil, atau sebungkus dua bungkus rokok kesukaannya, Gudang Garam Merah.

Sore sehabis Asar temuilah dia di tanah lapang. Mak Din, dengan seragam Manchester United yang itu-itu saja; berwarna merah dengan nomor punggung 7 bertuliskan ‘Cantona’, akan bermain membela tim kampung kami melawan tim-tim dari kampung lain yang silih berganti datang bertandang demi dua tiga krat Badak, limun Sarsaparilla bikinan Siantar.

Sosoknya mudah dikenali. Sebab selain kostum Cantona, di lapangan dia menjadi satu-satunya pemain yang mengenakan penutup kepala. Bukan sebangsa bandana atau helm sebagaimana dikenakan pemain-pemain kelas dunia yang tengah mendapatkan cedera, melainkan kopiah haji. Dengan keajaiban tersendiri kopiah berwarna putih itu tidak terlepas dari kepalanya. Padahal sebagai pemain berposisi bek tengah, berkali-kali dia harus menyundul bola untuk mengamankan wilayah kawalan.

Mak Din tidak pernah merampungkan permainan. Pada tiap pertengahan babak kedua dia selalu minta diganti. Kelakarnya, dia harus ke masjid untuk membunyikan pluit panjang.

Perihal waktu bermain ini kami memang tidak pernah menaati aturan FIFA. Babak pertama biasanya antara 40-45 menit. Kadangkala bahkan cuma 30 menit. Babak kedua, pukul berapa pun permainan dimulai, tak peduli berapa menit waktu bermain di babak pertama, penanda akhirnya selalu sama. Suara azan. Suara Mak Din. Tidak ada cerita injury time. Tidak ada kompromi dengan wasit. Begitu terdengar lafaz ‘Allahu Akbar…, Allahu Akbar…’, segenting apa pun permainan harus segera dibubarkan.

Mak Din tidak menikah. Ada selentingan dia pernah beristri dan punya anak. Ada pula yang bilang duda. Mak Din tidak membantah tapi juga tak membenarkan. Tiap kali ada yang bertanya, dia nyengir lebar saja. Pastinya, tiap malam minggu dia akan berpenampilan lebih stedi: bersepatu pansus putih, berkemeja model ketat warna terang; kadang motif bunga kadang garis-garis, dipadu jeans. Rambutnya yang makin menipis, terutama di bagian belakang atas, berminyak Tancho. Tak lupa, diselipkannya sisir di kantong belakang celana itu.

Padahal dia tidak pergi ke mana-mana. Paling jauh duduk di depan kedai Wak Ngah. Ngobrol ngalor-ngidul sambil gitaran bersama pemuda-pemuda pengangguran.

Mak Din ciamik melantunkan dangdut. Suaranya tak merdu-merdu amat. Cenderung serak. Namun cengkoknya mulus meliuk. Perpaduan janggal yang justru membuatnya jadi istimewa. Tak heran jika tiap kali ada kenduri yang mengusung organ tunggal, tuan rumah kerap menahan Mak Din. Ia tak diizinkan pulang sebelum melepas dua tiga lagu. Favoritnya Bekas Pacar dari Imam S Arifin dan Air Mata Perkawinan besutan Mansyur S, meski dia tidak pernah menolak saat para ahli hajat, orang-orang dapur, atau tamu-tamu undangan, meminta Pengadilan Cinta Leo Waldi, atau rock melayu klasik Singapura yang di negeri ini pernah meledak lagi setelah didangdutkan Cici Faramida, Jangan Tunggu Lama-lama.

Selain disebabkan suaranya, panggung-panggung kenduri tersebut juga bertambah semarak karena gaya joget Mak Din yang sungguh-sungguh aduhai.

Setelah bergelar haji perangainya tak banyak berubah. Dia tetap menyanyi dangdut di kenduri-kenduri. Tetap heboh meski goyangnya tak lagi terlalu mengguncang.

Eh, apa kalian pikir karena pernah ziarah ke makam nabi awak harus berlagak jadi orang suci. Apa karena pernah salat di Masjid Nabawi awak tak boleh nyanyi dangdut lagi,” ucapnya.

Tentu banyak juga yang menyinggung kopiah yang dikenakannya. Sejak pulang berhaji, kopiah berwarna putih itu memang nyaris tak pernah lepas dari kepalanya. Setidaknya hormatilah kopiah itu, kata orang-orang yang menegur. Mendengar ini, Mak Din kerap tertawa, lalu bilang bahwa kopiah cuma benda mati, sama sekali bukan identitas haji.

“Biar kalian tahu, mabrur atau tidaknya haji seseorang bukan diukur dari kopiah di kepalanya. Melainkan dari hatinya. Pergi haji sampai sembilan kali pun kalau hati tetap memelihara dengki dan iri, tak ada gunanya juga. Jadi tak usahlah kalian pening-pening pikirkan kopiah awak ini. Untuk awak sederhana saja alasannya. Awak pakai supaya kelihatan sedikit lebih tampan. Terutama dari arah belakang.”

Ini kalau kami yang menyinggung. Pada Ustaz Marsilam, lain jawabannya.

“Awak cuma goyang-goyang jambu, Ustaz. Sekadar lepas candu,” ucapnya, lalu terkekeh-kekeh, dan Ustaz Marsilam pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Bagaimana Mak Din pergi haji dan membuat sebagian besar kami mengubah sapaannya menjadi ‘Mak Haji’, ‘Wak Haji’, dan belakangan ini ‘Pak Haji’, juga punya cerita tersendiri.

Awal Ramadan sebelas tahun lalu, seorang laki-laki yang tidak kami kenal beberapa kali Tarawih di masjid. Setengah baya, kira-kira 50-55 tahun. Tetap kelihatan perlente meski cuma berkain sarung.

Kami punya satu kebiasaan berkumpul di beranda masjid usai Tarawih. Minum kopi, teh, es sirop, dan menyantap hidangan berbuka yang masih tertinggal sembari mendengarkan Mak Din bercerita. Cerita-ceritanya ini tak melulu baru. Bahkan ada yang sampai beberapa kali diulang. Meski demikian tetap saja kami tergelak-gelak. Selain karena ceritanya, mimik wajah dan cara Mak Din berbicara juga menggelitik.

Paling sering diulang adalah kisahnya di penjara. Mak Din pernah dua kali masuk bui. Sekali sebelum berhaji dan sekali lagi setelah pulang haji. Yang pertama tiga hari, sedangkan yang kedua lima belas hari. Keduanya karena alasan serupa. Dia diadukan warga kompleks seberang kampung yang merasa terganggu oleh suara meriam bambu yang didentumkan anak-anak nyaris tiap malam sepanjang Ramadan. Meriam-meriam bambu ini bikinan Mak Din.

Demikianlah, menurut Mak Din, pascamengetahui dirinya muazin merangkap nazir masjid, narapidana-narapidana yang satu sel dengan dia mendadak berubah religius. Tepatnya, ingin terkesan religius. Mereka mendaulat Mak Din sebagai tuan guru dan membaiat diri menjadi jemaah. Mak Din sempat menolak. Dia menjelaskan, antara muazin, nazir, imam, dan ustaz, masing-masing punya peran berbeda. Sayangnya, para narapidana itu tak mau tahu. Mak Din tetap didaulat sebagai tuan guru, dan sebagai tuan guru, tentu saja, dia harus memberi tausiah.

Di sini letak persoalannya. Tuan guru dan jemaah sama-sama bingung. Melulu karena takut, Mak Din menyampaikan kaji-kaji yang pernah didengarnya dari Ustaz Marsilam. Namun jemaahnya protes. Mak Din menyampaikan kaji tanpa kutipan ayat-ayat Al Quran atawa hadist qudsi. Menurut jemaahnya, tausiah seorang tuan guru harus penuh dengan kutipan ayat-ayat.

“Cobalah kalian bayangkan. Seumur-umur tak pernah awak kasih tausiah. Kalau disuruh main bola atau menyanyi dangdut, picing mata pun awak bisa.”

Seorang di antara kami waktu itu sempat bertanya. Apakah dia tidak bisa membaca Alquran? “Eh, kalau baca tentulah bisa,” sergah Mak Din. “Begini-begini awak sudah khatam tiga kali. Cuma masalahnya, mana, lah, pulak awak hapal luar kepala,” katanya.

Demi keselamatan diri Mak Din melakukan muslihat. “Sebenarnya berdosa juga awak menipu orang, tapi mau macam mana lagi, kawan. Terpaksalah, daripada awak pulak yang dilibas orang-orang itu. Entah macam mana, pas genting-gentingnya, mendadak terlintas di kepala awak lagu Magadir. Sengaja awak fasih-fasihkan supaya kedengaran menyakinkan. Tahu kalian, ternyata orang-orang itu percaya. Tiap tausiah selesai, ramai-ramai dicium orang itu tangan awak. Aman awak dalam penjara. Makan enak. Tidur enak.”

Lelaki perlente selalu berada di antara kami saat Mak Din berceloteh dan ikut tertawa-tawa. Di malam takbiran, dia datang menemui Mak Din dan menyerahkan berkas-berkas kelengkapan menunaikan haji atas nama Zainuddin untuk berangkat di tahun yang sama.

Namun itulah pula kali terakhir kami melihatnya. Beberapa orang yang agak sering membaca koran dan nonton berita di televisi, samar‑samar ingat, sekitar 10 tahun sebelumnya ada lelaki yang wajahnya mirip laki-laki itu dibui lantaran korupsi.

Apa hukum berhaji pakai uang hasil korupsi? Perdebatannya pasti akan panjang dan cuma bikin kepala jadi berdenyut-denyut dan karena itu sebaiknya memang tidak usah diceritakan di sini. Mak Din sendiri juga tak mau ambil peduli.

“Yang penting bukan awak yang korupsi,” katanya seraya terkekeh panjang.

***

Kabar kematian Haji Zainuddin menyebar cepat. Belum tengah hari pelataran masjid telah sesak. Orang-orang dari kampung-kampung sebelah juga berdatangan. Pun orang-orang kompleks seberang yang pernah dua kali mengirim Haji Zainuddin ke penjara.

Begitulah pada dasarnya memang hampir tak ada yang tidak menyukai Haji Zainuddin. Sampai hari kematiannya, barangkali hanya satu perkara yang pernah membuat dia berada pada posisi dibenci. Itu pun bukan benci yang sebenar-benarnya benci. Hanya sebangsa kemarahan sesaat. Itu pun oleh orang-orang tertentu saja. Mereka menuding Haji Zainuddin munafik lantaran menolak ikut dalam ramai-ramai aksi membela agama dari penistaan yang dituding dilakukan seorang laki-laki yang saat itu menjabat gubernur di satu kota yang letaknya jauh sekali dari kampung kami. Kota yang oleh sebagian besar kami hanya pernah dilihat di televisi.

“Awak pilih berdoa saja. Allah lebih tahu dari kita yang tak seberapa berilmu dan belum tentu pula beriman. Tak perlu kita desak-desak Allah untuk menghukum,” ujarnya.

Suasana sempat panas meski tak lama. Orang-orang yang berseberangan pendapat dengan dia tidak punya celah memprovokasi, sebab lebih banyak yang yakin dan sungguh-sungguh percaya bahwa Haji Zainuddin memang sama sekali tidak punya kepentingan dalam silang-sengkarut politik. Dia bukan pendukung kubu ini dan kubu itu. Bukan pembela politisi ini atau politisi itu. Politik tidak pernah masuk dalam hitungan Haji Zainuddin. Sepanjang hidupnya, dia hanya tertarik pada dangdut dan sepak bola.

“Cuma satu, lah, yang awak mohonkan sama kalian. Nanti kalau awak mati, janganlah pulak gara-gara persoalan ini tak kalian salatkan awak. Memang, masih ada Si Sadat friend kental awak. Pasti mau dia. Masalahnya awak yang tak mau. Tak beres bacaan dia. Nyasar pula nanti awak ke neraka,” katanya.

Begitulah, pada akhirnya memang bukan Anwar Sadat, tetapi Ustaz Marsilam yang jadi imam salat. Makmum meluber sampai ke luar masjid. Sampai ke teras, sampai ke pekarangan, hingga para remaja masjid harus mendirikan tenda-tenda tambahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah kampung kami.

Pidato belasungkawa yang disampaikan sejumlah tokoh warga juga bertabur gelak tawa. Alih-alih menyampaikan kenangan yang menerbitkan keharuan dan air mata, tiap-tiap yang mendapat kesempatan berpidato justru menceritakan ulang pengalaman mereka yang berkenaan dengan kejenakaan-kejenakaan Haji Zainuddin.

Gelak tawa berlanjut saat mengantar jenazah. Tidak ada yang bersedih. Tidak ada air mata. Tidak ada pergantian orang-orang yang jadi pemanggul keranda, dan kami, merasa sampai di pekuburan jauh lebih cepat dari biasanya.

Medan, 2017-2020

Dimuat Solo Pos

Minggu, 25 Oktober 2020

Merevolusi Olahraga Indonesia

ATLET putri Indonesia Eki Febri Ekawati menangis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam usai mendapat medali emas nomor tolak peluru putri SEA Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia,25 Agustus 2017. Usai menyumbang medali, lewat media sosial, Eki Febri Ekawati mengungkapkan unek-unek, antara lain tentang dana akomodasi yang tidak pernah dia terima dari pemerintah selama menjalani Pelatnas SEA Games 2017. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

 

Kontingen Indonesia kembali dari SEA Games 2017 dengan membawa pulang 38 medali emas. Nyaris empat kali lipat lebih sedikit dari tuan rumah Malaysia yang meraih gelar juara umum. Indonesia sendiri tercecer di posisi lima. Di belakang Thailand, Vietnam dan Singapura.

PENCAPAIAN ini sesungguhnya sama dengan SEA Games edisi sebelumnya di Singapura. Indonesia berada di bawah Thailand, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Namun saat itu, torehan medali emas Indonesia lebih banyak, yakni 47.

Tak pelak, inilah pencapaian terendah Indonesia di ajang SEA Games. Indonesia tampil di SEA Games sejak edisi 1977 dan sejak itu 10 kali menjadi kampuin. Terakhir di tahun 2011, saat menjadi tuan rumah. Sebelumnya, Indonesia menjadi juara umum pada 1997. Juga saat menjadi tuan rumah.

Saya sering berkelakar mengenai hal ini. Jika ingin menjadi juara, tak perlu repot-repot mendongkrak kualitas teknik atlet. Cukup dengan menjadi tuan rumah. Maka jumlah medali akan melesat secara mengagumkan.

Tahun 2009 di Laos, Indonesia meraih 43 medali emas. Dua tahun berselang di Jakarta, torehan itu melesat jadi 182. Nyaris empat kali lipat hanya dalam dua tahun. Namun dua tahun berikutnya, di Myanmar, jumlah medali emas merosot ke angka 64, dan giliran tuan rumah yang unjuk keperkasaan. Myanmar yang bahkan tidak pernah masuk jajaran lima besar, merangsek ke posisi dua, di bawah Thailand. Mereka meraih 84 emas. Akan tetapi di Singapura 2015, medali emas mereka tinggal 12. Ke mana perginya 72 medali emas yang lain?

Maka dari itu, SEA Games sesungguhnya tidak lebih dari ajang adu gengsi. Ajang untuk mendongkrak jumlah medali dan memburu posisi juara umum. Bukan untuk meningkatkan kualitas teknis atlet. Bukan untuk meningkatkan kemampuan dan potensi untuk bersaing di ajang yang levelnya lebih tinggi. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila atlet-atlet Asia Tenggara, kecuali di cabang-cabang tertentu, jarang sekali yang bisa bersaing di Asian Games atau Olimpiade.

Tentu, kita tidak boleh membiarkan kecenderungan yang keliru ini terus berlarut-larut. Harus segera dilakukan perubahan yang revolusioner. Pertanyaannya, dari mana memulai?

Banyak yang mengkambinghitamkan sistem pembinaan. Ketidakberesan sistem menjadikan regenerasi atlet berjalan sangat lambat. Pada beberapa cabang di SEA Games 2017, para pengurus cabang olahraga masih juga mengandalkan atlet-atlet senior yang sesungguhnya tidak dapat lagi meningkatkan kemampuan.

Namun sistem pembinaan, saya kira, berada di urutan kedua. Revolusi olahraga Indonesia mesti dimulai dari badan-badan atau organisasi olahraga. Dalam hal ini, pengurus-pengurusnya. Bagaimana menempatkan orang-orang yang tepat. Orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa sebagian besar badan atau organisasi olahraga dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Tampuk jabatan ketua-ketua umum, ketua-ketua pengurus daerah, sampai pengurus cabang, dipegang oleh para pengusaha, tokoh-tokoh pemuda, pejabat, dan politisi.

Mereka semua dipilih sebagai ketua bukan berdasarkan kompetensinya, melainkan lantaran uang yang bisa dikucurkannya, lobi-lobi yang bisa dilancarkannya, juga –tentu saja– kekuasaannya. Ironis karena tidak sedikit ketua dan pengurus badan atau organisasi olahraga yang tidak suka, bahkan tak pernah memainkan olahraga di mana dia berkecimpung di dalamnya.

Sekiranya orang-orang yang tak kompeten ini sekadar duduk di tampuk jabatan tertinggi barangkali tidak jadi masalah. Malah bagus. Dari kursinya dia bisa menggelontorkan uang dan melakukan lobi-lobi untuk memuluskan roda organisasi.

Celakanya, yang sering terjadi justru tidak demikian. Yang sering terjadi, mereka membawa serta gerbongnya dan menempatkan mereka di posisi-posisi yang sangat strategis dan penting. Contohnya di bidang pembinaan. Bagaimana mereka bisa melakukan pembina yang serius, terarah, dan berkualitas, jika tidak memiliki kompetensi? Bagaimana mereka bisa menyusun program-program kerja?

Apabila orang-orang yang tepat telah di tempatkan di bidang yang tepat, langkah selanjutnya adalah menyediakan dana yang cukup. Program pembinaan tanpa dana adalah omong kosong. Mustahil berhasil. Semangat berkompetisi bisa luntur karena urusan perut. Pula demikian patriotisme.

Cengeng? Sama sekali tidak. Bagaimana mungkin atlet membiayai sendiri ongkos latihannya sementara dia diminta berjuang untuk negara? Bagaimana mungkin atlet tidak mendapatkan uang saku? Dia dan keluarganya mau makan apa? Bagaimana dia bisa berkonsentrasi berlatih dan bertanding?

Rampung masalah pemangku jabatan dan uang, barulah pembinaan bisa dilakukan. Dan yang pertama harus dilakukan adalah pembibitan yang dibarengi penertiban dan perbaikan pola makan. Apabila berhasil, niscaya, pelan namun pasti, kualitas atlet akan terperbaiki.

EKSPRESI kesedihan pemain Timnas Indonesia, Gavin Kwan, usai ditekuk Malaysia 1-0 pada pertandingan semifinal sepakbola SEA Games 2017 di Stadion Shah Alam, Selangor, Malaysia, 26 Agustus 2017. Indonesia akhirnya meraih medali perunggu setelah pada pertandingan perebutan posisi tiga mengalahkan Myanmar 3-1. (TABLOID BOLA/HERKA YANIS PANGARIBOWO)

Satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah, kenapa atlet-atlet kita selalu unggul di usia dini namun gagal bersaing dan jeblok di usia produktif? Misalnya di cabang sepakbola. Di tingkat anak-anak, remaja, bahkan hingga tingkat junior, pemain-pemain Indonesia bisa mengimbangi pemain-pemain dari negara-negara sepakbola. Baik di Eropa maupun Amerika Selatan dan Afrika.

Namun di tingkat senior, untuk sekadar menjadi pemenang di level Asia Tenggara saja pun sangat sulit. Jangankan Thailand, Vietnam, dan Malaysia, sekadar Kamboja dan Filipina sekarang sudah bikin kita ngos-ngosan.

Apakah karena pembibitan yang kurang bagus? Pembibitan memang bermasalah. Faktor pejabat organisasi yang tak kompeten tadi ikut berperan. Banyak pemain titipan, dan pelatih yang tak punya pilihan untuk menyelamatkan kepulan asap periuknya, terpaksa menerima mereka.

Akan tetapi, berkat kejelian pelatih, pemain-pemain titipan ini masih dapat diperselang-selingkan dengan pemain yang benar-benar bagus untuk membentuk komposisi yang solid. Komposisi yang masih bisa bersaing. Persoalan terbesar adalah pola makan. Tak terjaga dan sembarang. Cuma mementingkan kenyang, dan belum merasa sah makan jika tidak menjejalkan berkepal-kepal nasi ke dalam perut.(*)

 

Pernah Dimuat Harian Analisa
Rabu, 6 September 2017
Edisi Cetak Halaman 21
http://harian.analisadaily.com/opini/news/merevolusi-olahraga-indonesia/409500/2017/09/06

Singgah di Omerta

 

MEJA bar kayu di sudut ruangan masih sama. Juga meja-meja tamu yang disulap dari mesin jahit klasik. Kursi bersandaran besi padat berukir, rak-rak buku, etalase yang memajang pernik suvenir otomotif, poster vintage Land Rover dan Vespa berbagai ukuran. Tak ada jejak mafia. Padahal nama kafe ini Omerta. The code of silence. Secara harfiah berarti gerakan tutup mulut, atau boleh jadi kesetiakawanan. Semacam perekat persaudaraan.

Jangan harap ada wisky, vodka, atau brandy, sebab bahkan sekadar bir pun tak tersedia di sini. Cuma kopi dan teh dalam berpuluh varian racikan.

“Selamat datang di Omerta!”

Sapaan yang masih persis sama. Meluncur dari balik meja bar yang tinggi, dari lelaki semampai, beruban, brewokan, bertato, berkacamata minus. Lelaki yang sama. Juga keacuhan yang tidak berbeda.

Namanya Deni, pemilik kedai sekaligus peracik kopi dan teh, merangkap pelayan. Kadangkala, jika orang yang bekerja untuknya berhalangan datang, Deni menggantikannya. Seperti sekarang. Dia menyapaku sembari membersihkan meja bar itu.

Siang jelang matang. 14.30. Aku lupa! Di Omerta waktu berjalan lebih lambat.

“Apa kabar, Bung?”

Pertanyaanku membuat Deni menghentikan aktivitasnya. Sesaat ia menatapku, lekat, lalu memamerkan senyum lebar. “Oi… Lama tak singgah, Kamerad!” katanya setengah berteriak. Dijabatnya tanganku. “Sehatkah?”

“Sehat-sehat orang tua.”

Hahaha… Maka nikmatilah hidup, Bung. Kurangi tidur, perbanyak minum kopi. Jadi, apa pilihan Anda hari ini? Kopi Betina seperti biasa? Atau sesekali mau coba Kopi Jantan?”

Deni memamerkan senyum lebar lagi. Akan tetapi kali ini segera surut dan ia buru-buru melontar maaf. “Bukan maksudku mengingatkan kau padanya.”

Aku menggeleng. Mencoba tersenyum. Siapa bisa lupa?

Usia kami sebaya. Sama-sama lahir di tahun 1977. Bulan ketujuh. Aku tanggal 17 dia 10 hari berselang. Begitu banyak angka tujuh dalam hidup kami. Aku mengkultuskannya secara sadar. Merekayasa sedemikian rupa hingga seluruh hidupku seolah tak bisa dipisahkan dari angka ini. Dia tidak. Seingatku, dia hanya melakukannya untuk satu hal: Tuesday With Morrie, halaman 154. Tiap kali kami singgah di Omerta, dia akan mengeluarkan buku ini dari tas. Tidak untuk dibaca. Dia mencari halaman itu lalu meletakkannya di atas meja dalam kondisi terbuka.

Kok, tidak ada angka tujuh?” kataku, dan dia tertawa. “Bagaimana, sih?” ucapnya setelah tawa reda. “Ini, kan, gabungan angka tahun kelahiran kita, 77 ditambah 77!”

Mulanya tentu saja aku merasa berbunga-bunga. Saat itu kami tidak sedang menjalin hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan, namun dia menempatkan angka tahun kelahiranku di posisi istimewa. Diam-diam aku menyimpan harapan.

Kenapa Tuesday With Morrie, tanyaku di hari lain. “Aku suka. Kupikir membaca novel ini akan membuat orang tak terlalu takut menghadapi mati. Maksudku, setidaknya bagiku. Barangkali bisa sama bagi orang lain. Bisa juga tidak,” ujarnya.

“Jadi pada halaman 154 itu malaikat maut datang?” tanyaku lagi. Asal-asalan saja.

“Tepatnya, belum, Bung. Di sana dipapar bagaimana Janine, istri Mitch, menyanyi untuk Morrie yang kondisinya makin payah. Lagu bersyair sangat indah. The Very Throught of You. Kau pernah dengar? Aku melacaknya di youtube dan menemukan banyak versi di luar aslinya. Dari semuanya, aku suka versi Billie Holiday dan Diane Schuur. Tapi paling mengesankan bagiku justru versi renyah dari Antoinette Clinton, penyanyi muda yang lebih suka menyebut dirinya Butterscotch.”

Lalu dia mulai bersenandung. Di lain hari, ketika keliaran obrolan membawa kami kembali pada topik ini, dia tidak saja menyanyi lebih keras tapi bahkan sampai berdiri di atas meja dan baru turun setelah Deni mendelikkan mata.

Sikapnya memang hampir selalu meriah. Di awal pertemuan kami, dia juga yang pertama mengulurkan tangan. “Mira. Mira Marcela,” katanya.

“Seperti nama penyanyi dangdut.”

“Aku memang penyanyi dangdut.”

Usianya waktu itu 27. Pernah menikah dua kali, bercerai, tanpa anak. Pernikahan pertama terjadi saat dia masih 17 tahun, berangkat dari perjodohan yang sebenarnya potensial membuat hidupnya berubah ciamik.

Lelaki itu dokter di rumah sakit provinsi dan sudah barang tentu mapan dalam segala hal. Ternyata rumah tangganya tak bertahan lama. Hanya bertahan tiga tahun. Bukan cuma karena lelaki 57 tahun itu sungguh payah di tempat tidur dan nafasnya bau walang sangit dan dua anak bawaannya dari istri pertama yang meninggal lantaran kecelakaan sungguh angkuh dan menolak memanggilnya ibu lantaran usia mereka nyaris sebaya. Fakta-fakta ini memilukan. Namun ada dua hal lain yang membuat Mira kehilangan kesabaran dan akhirnya mantap memilih cerai.

Lelaki itu punya tingkat ketelatenan yang sungguh kelewatan. Bahkan untuk perkara-perkara yang sangat sepele. Ia hapal mati letak sendok sayur, toples garam, emper cucian kotor, dan semuanya tidak boleh bergeser satu inci pun dan Mira mesti betul-betul cermat atau seluruh tetek bengek pekerjaan ini akan diulangnya sesuai standar yang ditetapkannya sendiri.

Mira juga merasa terpenjara. Sejak lelaki itu mengikuti satu pengajian ia memberlakukan banyak sekali larangan. Tidak boleh mendengarkan musik, tidak boleh menonton televisi, tidak boleh bepergian seorang diri sekalipun itu ke pasar, ke super market bahkan rumah ibu dan ayahnya. Dan lelaki itu memerintahkannya untuk menutup sekujur tubuhnya. Yang tersisa hanya sepasang mata.

Pascabercerai Mira jadi penyanyi dangdut. Kenapa harus dangdut? Kenapa bukan pop atau rock? Kenapa jadi penyanyi? Kenapa bukan pekerjaan lain atau kenapa dia tak pulang kampung saja, misalnya. Mira tak menjelaskan dan aku juga tak bertanya lebih lanjut. Pastinya, setahun kemudian Mira dinikahi pemilik orkes dan produser rekaman yang mengorbitkannya.

Pernikahan ini berumur sama pendek. Hanya 17 bulan. Mira tak tahan pada kelakuan suaminya yang doyan main pukul dan kelayapan menyantap perempuan.

Mira Marcela mengaku telah melepas 37 album. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk ukuran pedangdut di negeri terkasih ini. Padahal dia belum pernah masuk televisi atau sepanggung dengan penyanyi ternama. Beberapa yang menurutnya laris berjudul Enak-enak Digoyangin, Pacaran Lagi Sama Duda, Mendhem Kangen, Terbujuk Rayu Mega Mix II, Mencari Mangsa Gaya Jaipong, dan Basah-Basah Digilir Cinta Seleksi Koplo Terheboh.

Percakapan soal pernikahan dan dangdut umumnya berhenti sampai di sini. Bukan lantaran kecewa atau tidak menarik. Namun kami memang tak pernah betah dan serius berlama-lama pada satu topik. Sangat sedikit pula yang dipercakapkan serius. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya membutuhkan keseriusan. Seingatku, satu-satunya topik yang tak diakhiri gelak tawa atau kesimpulan ngawur adalah soal racik-meracik kopi.

Dia bertanya kenapa kopi yang disangrai lalu ditumbuk dengan metode tradisional akan memberi cita rasa lebih kuat dibanding kopi bubuk olahan mesin. Dia bertanya kenapa suhu air terbaik untuk menyeduh kopi antara 85 hingga 97 derajat celsius dan kenapa kopi yang telah diseduh dengan gerakan memutar tak perlu diaduk lagi. Dia bertanya mengapa penambahan gula akan membuat kenikmatan menyeruput kopi berkurang. Dia bertanya kenapa ada kopi jantan dan kopi betina. Dia bertanya, tepatnya menggugat, kenapa penamaan jantan dan betina ini didasari bentuk biji kopi yang didekatkan pada alat kelamin –kopi jantan berbentuk bulat sedangkan kopi betina memiliki belahan yang terletak persis di tengah. Kenapa jantan dihargai lebih mahal?

Tak sekadar bertanya. Sering pula dia pergi ke balik meja bar membantu Deni meracik kopi. Untukku selalu diracikkannya kopi betina sedangkan baginya kopi jantan. Kenapa terbalik? Emansipasi, bilangnya. Belakangan aku tahu alasannya tak sesederhana itu.

Tujuh bulan pascaperceraiannya yang kedua Mira bertemu seorang perempuan. Kurang lebih tiga pekan setelah kami berjumpa untuk kali pertama, dia mengenalkan perempuan itu padaku. Mata, bentuk hidung, tulang pipi, dan bibirnya mengingatkanku pada Cyrine Abdelnour, penyanyi Lebanon yang aduhai. Namanya Lena Marlena, pedangdut pendatang baru.

Hari-hari Mira Marcela kemudian riuh diisi segala hal tentang Lena Marlena. Suatu hari dia bercerita bahwa menurut Lena di masa lalu mereka berdua adalah pasangan kekasih. Tak tanggung-tanggung. Mereka bercinta-cintaan pada dua putaran kehidupan. Putaran pertama dia terlahir sebagai laki-laki dan Mira perempuan. Di kehidupan berikut posisinya berbalik.

“Sekarang kalian sama-sama perempuan. Bagaimana itu?”

Sebenarnya aku cuma bermaksud menggoda. Namun Mira menanggapi serius. “Tak masalah, kan? Kupikir aku sudah jatuh cinta padanya,” ucapnya mengejutkanku.

Meski menggebu percintaan mereka tak mulus. Mira dan Lena bergantian memutus hubungan. Paling sering dilatarbelakangi kecemburuan. Puncaknya, menurut Mira, Lena ingin membunuhnya.

“Kau serius?” tanyaku.

“Lihat ini,” ujarnya seraya menyodorkan telepon seluler. Foto ban dan velg mobil: forged alloy racing 17 inci, varian jari-jari. Dua dari empat bautnya tanpa mur. “Aku tak pernah suka mengendarai mobil dengan kecepatan rendah.”

“Kau yakin dia pelakunya?”

“Aku tak punya musuh lain.”

Mira menggeleng-gelengkan kepala. “Kau tahu, Bung. Sebenarnya bukan perkara kematian ini benar yang aku takutkan. Aku cuma kaget, sekaligus sedih dan kecewa. Dia begitu cantik dan begitu licin. Tak kusangka. Dia bahkan belum terhitung penyanyi dangdut kelas dua.”

“Lalu?”

“Aku tak mau konyol. Aku harus mendahuluinya.”

Oh, Tuhan.”

Mira tersenyum. “Ini cuma perkara cinta dan kematian. Tak usah bawa‑bawa Tuhan.”

Sepekan setelah pembicaraan ini mobil Mira Marcela ringsek di jalan tol. Kanvas rem rusak berat. Keempat ban nyaris tanpa bunga dan pada velg sebelah kiri depan, hanya dua dari empat mur yang masih terpasang. Pengemudi mobil yang dikenali sebagai Lena Marlena, terluka parah, dan akhirnya meninggal setelah dua hari dirawat di rumah sakit.

Beberapa jam kemudian Mira Marcela ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Seorang tetangga yang curiga melihat botol-botol susu teronggok berhari-hari di depan pintu, menghubungi polisi. Mira tergolek kaku di ranjang mengenakan kemeja putih kedodoran dan lingerie berwarna senada. Tak ada tanda‑tanda kekerasan pada tubuhnya. Di TKP, tiga dimensi forensik –lantai, dinding, atap– seluruhnya aman.

Kedua kasus ini tak pernah tuntas.

Tiba‑tiba aku merasa mual. “Kamerad, pesananku sudah siap?”

Bah! Anda bahkan belum memesan apa‑apa, Bung,” sahut Deni.

“Kalau begitu Teh Strawberry saja. Tambahkan sedikit mint. Kurasa aku masuk angin.”

Deni tergelak panjang.

 

Medan, 2014–2016

 

KETERANGAN:

*Omerta Koffie, Jalan Wahid Hasyim No. 9, Medan. Kafe ini jadi tempat kumpul dan berdiskusi para pecinta kopi, anggota komunitas Land Rover, Vespa, juga wartawan, fotografer, dan blogger.

 

Dimuat Harian Media Indonesia
Minggu, 22 Januari 2017
Halaman 10

 

Dongeng Kurcaci: Berlanjut Atau Terhenti

  • Leicester City vs Manchester United

 

AFP PHOTO

CLAUDIO Ranieri

SATU pertanyaan besar yang mengemuka usai Leicesester City menjuarai Liga Inggris musim 2015-2016. Apakah mereka bisa mempertahankan kecemerlangan dan mengulang pencapaian?

Pertanyaan seperti ini sesungguhnya bukan pertanyaan istimewa. Kerap muncul tatkala ada klub perusak hagemoni yang melesat jadi kampiun. Wolfsburg di Bundesliga (Liga Jerman) musim 2008-2009, Twente di Eredivisie (Liga Belanda) musim 2010-2011, dan Montpellier di Ligue 1 (Liga Perancis) musim 2011-2012 dan Lille semusim sebelumnya. Dari era yang lebih lama tercatat RC Lens di musim 1997-1998. Di Inggris ada Blackburn Rovers (1993-1994), di Italia ada Sampdoria (1990-1991) dan di Spanyol ada Deportivo La Coruna (1999-2000).

Dari keseluruhan klub perusak hagemoni, kurcaci-kurcaci perajut dongeng peri, hanya Deportivo yang mampu menjawab pertanyaan tadi. Mirip yang dilakukan Napoli, yang setelah menjuarai Serie A di musim 1986-1987 mampu konsisten berada di papan atas sampai musim 1990, Deportivo juga bisa bertahan di level kompetitif selama tiga musim beruntun.

Satu pertanyaan lain semestinya mengemuka. Kenapa Deportivo dan Napoli bisa bertahan sedangkan klub-klub lain sekadar numpang lewat?

Dua jawaban bisa dikedepankan. Pertama, mereka tetap mampu menjadi keutuhan tim. Napoli, kita tahu, mendadak menjelma kekuatan menakutkan setelah Diego Maradona yang merasa tidak nyaman di Spanyol memilih “menyepi” di Kota Naples. Alih-alih terjauhkan dari ingar-bingar sepakbola, Maradona justru melesatkan Napoli. Bersama para young guns, talenta-talenta ciamik Italia yang masih serba panas: Ciro Ferrara, Salvatore Bagni, dan Fernando De Napoli, klub yang selalu berada di bawah bayang-bayang para raksasa ini (Juventus, AC Milan, dan Inter Milan) dibawanya ke singgasana tertinggi.

Pascajuara, para penggawa ini tetap bertahan. Kekuatan Napoli semakin lengkap dengan masuknya legiun asal Brasil. Antonio de Oliveira Filho alias Careca datang di tahun 1987 dan Ricardo Rogerio de Brito atawa Alemao menyusul semusim berselang. Tahun berikut, manajemen Napoli merekrut bintang muda Italia yang permainannya sering dianggap mirip Maradona, Gianfranco Zola. Kolaborasi mereka menghasilkan gelar kedua di musim 1989-1990.

Pula demikian Deportivo. Di tengah hagemoni Real Madrid dan Barcelona, mereka tiba-tiba menghadirkan ledakan. Empat pemain jadi poros utama. Jose Molina di bawah mistar, Noureddine Naybet di belakang, Mauro Silva di tengah, dan Roy Makaay di depan. Poros ini bertahan hingga musim 2002-2003, tatkala mereka menyelesaikan liga di posisi tiga, di belakang Real Madrid dan Real Sociedad. Setahun berselang, dengan poros yang tersisa dua, minus Naybet dan Makaay, Deportivo masih sanggup lolos ke zona Liga Champion.

Lalu bagaimana nasib Leicester City? Apakah akan serupa Napoli dan Deportivo, atau mengulang cerita Montpellier, Lille, Lens, Wolfsburg, dan Blackburn Rovers? Sekali meroket kemudian redup. Atau lebih menyerupai Twente, yang setidaknya masih mampu menunjukkan sisa sengatan usai menampar wajah Ajax, PSV, dan Feyenoord.

Dongeng Leicester memang menarik perhatian siapa saja. Premisnya bukan mengulang kejutan yang pernah ditorehkan klub-klub perusak hagemoni tadi, melainkan sebenar-benarnya anomali. Betapa di era industri sepakbola, era di mana prestasi makin dipercaya berbanding lurus dengan modal, kurcaci masih mampu menumbangkan para raksasa.
Maka analis-analis yang dibayar mahal oleh manajeman klub-klub pemilik modal “tak terbatas” pun melakukan “hitung-hitungan”. Mencari tahu apa rahasia di balik anomali.

Hasilnya? Kekompakan tim. Strategi Claudio Ranieri sesungguhnya sama sekali tidak istimewa. Terlalu biasa dan sederhana jika dibandingkan racikan- racikan Jose Mourinho, Arsene Wenger, Louis van Gaal, Arsene Wenger, Jurgen Klopp, atau Mauricio Pochettino.

Namun racikan sederhana ini mampu diaplikasikan secara dahsyat oleh pemain-pemainnya yang tidak berkategori bintang, bahkan beberapa di antaranya adalah apkiran dan buangan.

Siapa yang sebelumnya mengenal Christian Fuch? Juga nama-nama seperti Robert Huth, Wes Morgan, Danny Drinkwater, Andy King, Jamie Vardy, dan Kasper Schmeichel. Meski sudah lama beredar di Liga Inggris, nama mereka tidak pernah sungguh-sungguh berkibar. Kasper Schmeichel mungkin sedikit lebih dikenal. Cuma sayangnya, bukan karena dirinya, melainkan nama Schmeichel yang ia sandang, yang akan segera mengingatkan orang pada ayahnya, The Great Dane, kiper legendaris Manchester United, Peter Schmeichel. Pun N’Golo Kante, Riyad Mahrez, dan Shinji Okazaki, di klub-klub mereka sebelumnya, bukanlah bintang-bintang utama.

Dan begitulah, memang persis dongeng, pemain-pemain level sekadar ini menyatu dengan sebenar-benarnya, seperti “sehidup semati senasib sepenanggungan”. Antara satu dan yang lain bagaikan saudara.

Analisis lain merujuk pada ‘keberuntungan awal yang kemudian menumbuhkan kepercayaan diri yang dari pertandingan ke pertandingan semakin kuat’. Sebaliknya, kepercayaan diri ini gagal diantisipasi klub-klub lain. Mereka terlena, masih memandang enteng, dan saat tersadar segalanya sudah sangat terlambat.

Leicester City memulai musim 2015-2016 dengan semangat untuk sekadar tak harus bertarung sampai setengah mati demi menghindari degradasi. Tapi tiba-tiba mereka memuncaki klasemen. Tidak pernah kalah. Bahkan ketika berhadapan dengan klub-klub langganan juara. Seperti bermimpi saja, kata Ranieri. Dan pada pasukannya, Ranieri bilang, “mimpi ini indah sekali, jadi usahakan agar kita tidak bangun terlalu cepat”.

Musim 2016-2017 akan dimulai dalam hitungan hari. Dan sampai sejauh ini, Leicester City, masih boleh dikata selamat dari upaya klub-klub kaya, klub-klub yang nyaris menjelma “kartel” dalam industri sepakbola, untuk mempereteli mereka.

Pemain yang pergi baru N’Golo Kante. Mahrez masih bimbang menimbang tawaran Arsenal. Sedangkan poros-poros musim lalu, seperti Vardy, Drinkwater, King, Huth, Morgan, dan Schmeicel masih betah berumah di King Power Stadium.

Tapi persoalannya tidak sesedehana itu. Bagi Leicester City, tantangan tidak berhenti pada komposisi, melainkan juga mental. Tahun ini, untuk kali pertama dalam sejarah, mereka akan bermain di Liga Champions, kasta tertinggi sepakbola Eropa. Mereka akan bermain di Camp Nou, Santiago Bernabeau, Juventus Stadium, Alianz Arena, Olympico, stadion-stadion raksasa, stadion milik klub-klub yang sudah kenyang makan asam di kompetisi premium.

Apakah mereka siap? Tentu sulit untuk mengatakan siap tak siap. Akan tetapi, hasil laga ujicoba kontra Paris Saint Germain dan Barcelona bisa dijadikan semacam gambaran. “Ada yang sedikit berubah pada kami. Ada beban yang seharusnya tidak ada. Tapi saya belum terlalu khawatir. Kami masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya,” kata Ranieri pada sky sport, beberapa jam setelah laga kontra Barcelona.

Begitulah beban sekarang ada pada Leicester City. Beban yang musim lalu tidak ada. Musim lalu, pemain melangkah ringan di lapangan dan bermain dengan riang. Menang syukur, seri syukur, kalah, ya, tidak apa-apa. Nothing to lose. Namun status sebagai juara liga paling gemerlap di dunia telah mengubah keringanan langkah dan keriangan mereka. Sekarang, pemain masuk lapangan dengan pikiran takut kalah.

Malam nanti, di Wembley, dalam laga Community Shield, kita akan melihat apakah beban itu dapat diminimalisir atau justru makin merasuk Leicester. Mereka menjajal Manchester United.

Bukan laga mudah tentunya. Meski resminya cuma “laga pemanasan”, Community Shield terlanjur dipercaya sebagai tolok ukur kekuatan klub, apakah layak jadi calon juara atau penggembira saja.

Terlebih-lebih lawan mereka Manchester United. Tiga tahun ini Manchester United terpuruk lantaran salah urus. Sekarang mereka mencoba bangkit. Jose Mourinho didatangkan, dan dia, sejauh ini, sudah menghabiskan Rp 1,1 triliun untuk belanja pemain. Jumlah yang bisa berlipat lebih dua kali apabila Paul Pogba jadi merapat.

Jose Mourinho sedang dalam misi untuk mengembalikan nama besarnya yang tercoreng pascaditendang untuk kali kedua dari Chelsea. Dan kita sudah sama- sama tahu siapa dia. Saat mengejar ambisi, Mourinho tidak pernah setengah- setengah.

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Minggu, 7 Agustus 2016
Halaman 1

Dua Air Mata di Stade de France

Banyak keyakinan dalam memaknai binatang-binatang dari satu peristiwa. Sebagian masyarakat di negeri ini menganggap kehadirannya sebagai pertanda. Misalnya, ular masuk rumah adalah malapetaka. Atau kupu-kupu. Ada kupu-kupu, berarti akan ada tamu –meski pada kenyataannya tidak selalu begitu.

 

FOTO-FOTO: AFPLANTAS bagaimana memaknai kehadiran binatang di Stade de France, Saint Denis, Paris, pada Senin dinihari (waktu Indonesia) itu?

Partai final Euro, kejuaraan sepakbola paling gemerlap di benua biru, dan binatang itu, yang awalnya disangka kupu-kupu tapi kemudian diidentifikasi sebagai moth, ngengat bertubuh lebih besar (termasuk dalam family yang sama dengan kupu-kupu, yakni Lepidoptera), turun ke tengah keriuhan stadion yang disesaki 75 ribu penonton pada menit ke 33 pertandingan, lalu hinggap di wajah Cristiano Ronaldo, di atas bulir air matanya yang menitik.

Apakah sebagaimana halnya kupu-kupu, ngengat ini datang sebagai penanda kabar baik? Ngengat tidak pernah dipilih oleh para penyair tiap kali mereka menuliskan perkara cinta? Ngengat tidak memenuhi unsur keindahan. Tapi mungkinkah insting hewani membawanya untuk hinggap pada orang yang teraniaya padahal sesungguhnya lebih pantas mendapatkan cinta?

Tentu beragam telaah bisa diapungkan. Para penyair bisa menuliskan bermacam puisi. Para filsuf dapat membangun beragam teori. Jika Slavoj Zizek, filsuf mbeling dari Slovakia itu dengan cemerlang dan canggih mencacah-cacah anatomi tubuh manusia untuk diteorikan secara filsafatis, kenapa dia tidak mampu melakukan penghubung-hubungan antara ngengat, cinta, dan sepakbola?

The Moth Effect, tulis sejumlah media Perancis. Tapi bagi Cristiano Ronaldo, tak terlalu penting kupu-kupu atau ngengat. Dia sama sekali tidak ingat.

“Saya merasa sakit sekali. Saya merasa ini sudah berakhir dan saya sangat menyesal, sekaligus sangat marah dan sedih. Untuk sesaat, saya tidak tahu harus melakukan apa kecuali menangis,” katanya pada Dailymail, usai pertandingan.

thekicker.com

Ronaldo memang menangis. Enam menit sebelumnya, dalam perebutan bola dengan Patrice Evra dan Dimitri Payet, lutut kirinya kena terjang. Payet yang datang dari sisi kiri belakang, berupaya menyerobot bola, yang pada saat bersamaan telah digeser Ronaldo ke sisi yang lain. Tak ayal, lutut Payet menghajar lutut Ronaldo, yang langsung membuatnya terkapar. Ronaldo sebenarnya sudah menyadari bahwa ia tidak mungkin lagi bermain. Tapi masih memaksa bermain.

“Saya bilang, lakukan apa saja. Lakukan apapun yang membuat saya bisa bertahan di lapangan lebih lama,” ucapnya.

Maka staf medis tim nasional Portugal pun menyemprotkan cairan bius, kemudian membebat lutut Ronaldo sangat tebal. Upaya yang gagal dan Ronaldo menyerah, menangis. Cederanya terlalu parah, bahkan untuk sekadar bisa melangkah dengan normal.

Kabar dilansir situs olahraga sportskeeda, yang disebut sebagai kabar unconfirm, kabar yang belum terkonfirmasi (kepada Ronaldo maupun otoritas tim nasional Portugal), menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan tim medis, ACL atau Anterior Curate Ligament pada lutut kaki kiri Ronaldo sobek, dan atas cedera ini, diperkirakan membuatnya menepi dari lapangan hingga lima bulan ke depan.

Horor bagi Ronaldo. Tapi ajaibnya, berselang 87 menit, justru menjelmakan keindahan bagi Portugal. Kontradiksi yang barangkali tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Sebab korelasi yang umum dipahami, Ronaldo adalah separuh nyawa Portugal. Tanpa Ronaldo, Portugal tidak berarti apa-apa.

Korelasi seperti ini pulalah yang barangkali dipahami oleh pemain-pemain Perancis, dan di sini letak celaka dua belas bagi mereka. Pemain-pemain Perancis merasa di atas angin. Tidak ada lagi pemain yang perlu ditakuti. Nani sudah lewat masa jayanya. Renato Sanches masih terlalu muda.

Tapi tidak mereka sangka, sama sekali tidak, keluarnya Ronaldo justru memunculkan kekuatan Portugal yang selama ini tersembunyi. Kekuatan kolektif.

“Sangat sulit ketika harus kehilangan seorang pemain yang sangat penting. Seseorang yang selalu bisa diandalkan untuk melepaskan tim ini dari kebuntuan tiap kali dibutuhkan. Tapi ketika Cris menggelengkan kepalanya dan menangis, saya sadar, kami semua sadar, bahwa kami harus berbuat sesuatu,” kata Pepe dalam wawancara dengan BBC.

Dan “sesuatu” ini, adalah kerja keras. Portugal barangkali memang kesebelasan yang paling tidak berbakat di antara kontestan-kontestan unggulan di Euro 2016. Level mereka hanya sedikit lebih baik dibanding Denmark di tahun 1992 dan Yunani 12 tahun berselang.
Selain Ronaldo dan Nani, mereka hanya punya Pepe, sebagai pemain yang dapat dimasukkan dalam kategori berkualitas premium sekaligus populer.

Lain-lainnya adalah pemain bagus yang masih dapat diasah jadi bintang, pemain bagus yang tidak dapat lagi berkembang, dan pemain yang biasa-biasa saja. Juga beberapa pemain tua yang sesungguhnya sudah tidak pantas lagi berseragam tim nasional.

Berbeda jauh dibanding Portugal di tahun 2004. Kala itu mereka punya Luis Figo, Rui Costa, Pauleta, Nuno Gomes, Deco, Ricardo Calvalho, Fernando Couto, dan — tentu saja– Ronaldo yang ketika itu baru berusia 19. The Golden Generation.

Namun seperti dikemukakan Pepe, tanpa Ronaldo di lapangan, Portugal bersatu lebih solid. Tidak ada lagi pemain yang “harus” diberi bola membuat wilayah permainan jadi lebih lebar dan tidak sentralistik, dan Perancis, ternyata, tak siap menghadapi perubahan yang nyaris sekonyong-konyong ini. Kelegaan yang kebablasan. Kenyamanan yang dari menit ke menit berubah jadi kebingungan dan ketaksabaran, yang pada akhirnya membuat pemain-pemain Perancis makin individualis.

Di lain sisi, kekurangcermatan Didier Deschamps membuat situasi bertambah parah. Dia menarik keluar Payet yang pascamenjagal Ronaldo mendadak kehilangan kegarangan. Payet bermain serba tanggung dan canggung. Deschamps memilih Kingsley Coman, pemain 20 tahun yang musim lalu bersinar bersama Bayern Munchen.

Coman seperti pilihan yang tepat. Ternyata tidak. Penumpukan pemain di lini tengah yang dilakukan Fernando Santos, membuat kecepatan dan kepiawaian Coman yang memukau Pep Guardiola, jadi tersia-sia.

Pergantian Olivier Giroud dengan Andre-Pierre Gignac, dan Moussa Sissoko dengan Anthony Martial, Perancis terkesan kian dominan. Menguasai bola lebih banyak. Akan tetapi, itu tiada lebih dari “fatamorgana” lantaran tak berbanding lurus dengan intensitas tekanan. Ada tekanan, namun jarang sekali yang membahayakan. Kecuali peluang Gicnac yang dimentahkan tiang gawang, bola- bola Perancis nyaris selalu bisa dipatahkan sebelum masuk kotak penalti.

Ketinggalan satu gol lewat kolaborasi Eder dan Moutinho, dua pemain pengganti Portugal, semakin mencuatkan kepanikan. Serangan yang tadinya masih terukur berubah ngawur dan sporadis, dan Portugal pun hanya perlu menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan konyol, dan mereka berhasil.

“Ini salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya, dalam karier saya. Dalam banyak kesempatan saya mengatakan bahwa setelah gelar demi gelar saya raih, saya sangat menginginkan gelar untuk tim nasional. Dan sekarang saya mendapatkannya. Tuhan memang bekerja dengan cara yang tidak pernah bisa diduga. Luar biasa,” kata Ronaldo yang tetap saja menjadi sorotan meski sudah berada di luar lapangan.

DAILYMAIL

Betapa tidak. Dari ruang perawatan, Ronaldo bangkit di pertengahan paruh kedua, berjalan menuju bench, lalu bertingkah seperti pelatih. Tepatnya asisten pelatih. Berdiri di samping Fernando Santos, ia berteriak-teriak memberikan instruksi pada rekan-rekannya, memprovokasi lawan, mendamprat wasit. Sebentar-sebentar, matanya melirik ke arah jam besar di sudut Stade de France.

Dan tatkala Mark Clattenburg meniupkan pluit tanda laga berakhir, Ronaldo menangis lagi. Ini kali tentu saja tangis bahagia. Tangis yang menandai lahirnya seorang legenda.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Selasa, 12 Juli 2016
Halaman 1

Satu Langkah Menuju Legenda

  • Portugal vs Perancis

 

Siapakah Marcelo Rebelo de Sousa? Jawabannya Presiden Portugal, dan hampir bisa dipastikan, kecuali warga negara Portugal atau orang-orang yang memang betul-betul getol mencermati medan tarung politik dunia, tidak akan banyak yang bisa menyebutnya tanpa terlebih dahulu mengulik laman pencarian di internet.

 

AFP PHOTO/ROMAIN LAFABREGUE

CRISTIANO Ronaldo

TAPI, kecuali mereka yang betul-betul terasing dari peradaban dunia, akan dengan serta-merta memberi jawaban tatkala ditanya perihal nama ini, Cristiano Ronaldo.

Iya, siapa tidak kenal. Bahkan orang-orang yang tak menyukai (atau katakanlah membenci) sepakbola, tetap mengenalnya. Paling tidak, pernah mendengar namanya. Terkait siapa yang lebih baik antara dirinya dengan Lionel Messi, boleh jadi akan terus jadi perdebatan. Namun sama sekali tidak bisa dimungkiri, dari sisi popularitas, Ronaldo unggul. Bintangnya, sama cemerlang di dalam dan di luar lapangan.

Meski demikian, di Portugal, Ronaldo ternyata dianggap belum sampai ke puncak. Dia memang sudah melewati nama-nama seperti Luis Figo, Rui Costa, dan Pauleta. Ronaldo menjadi pemain dengan penampilan terbanyak untuk tim nasional, sekaligus pencetak gol paling subur pula. Dia bermain 132 kali dan melesakkan 61 gol, hampir dua kali lipat dari pencapaian Figo yang berjarak paling dekat dengannya (127 caps, 32 gol).

Akan tetapi, bagi rakyat Portugal, nomor satu adalah Eusebio. Di belakang nama lengkapnya, Eusebio da Silva Ferreira, disematkan dua gelar kehormatan: GCIH (Gra-Cruz Infante Dom Henrique) dan GCM (Grand Cruz Merit). Gelar-gelar yang diberikan pemerintah untuk orang yang dipandang berjasa bagi negara.

Ronaldo juga mendapatkan gelar ini. Di belakang namanya, Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro, Ronaldo berhak menyematkan GOIH atau Grande Oficial Infante Dom Henrique. GOIH, setingkat di bawah GCIH.

Pengakuan lain datang dari rakyat Portugal. Eusebio diberi gelar O Rei, dalam bahasa Portugis bermakna ‘Yang Mulia’, ‘Yang Dipertuan’, atau ‘Sang Raja’. Pengakuan yang tinggi, dan Ronaldo, sampai sejauh ini, belum mendapatkannya.

Satu ironi juga sebenarnya. Sebab jika diperbandingkan, dalam banyak hal Eusebio tertinggal dari Ronaldo. Dari sisi statistik, Eusebio memegang caps 64 dengan 41 gol.

Prestasi klub? Sama saja. Sepanjang kariernya yang terentang dari tahun 1957 sampai 1979, Eusebio lebih banyak merumput untuk klub-klub kurang terkenal. Satu-satunya klub di lingkaran elite Eropa yang pernah diperkuatnya adalah Benfica. Ia berada di sini selama 15 tahun, melakoni 301 pertandingan dan mencetak 317 gol. Di masanya, Benfica 11 kali menjuarai Liga Portugal dan satu kali memuncaki Liga Champions (Dulu Champions Cup).

Ronaldo, setelah memulai karier di Sporting Lisbon, kita tahu, pergi ke Inggris untuk memperkuat Manchester United. Lalu terbang ke Spanyol, ke Santiago Bernabeau, ke Real Madrid, dengan rekor bayaran tertinggi di dunia pada tahun 2009. Pencapaiannya, tiga gelar juara liga untuk Menchester United (MU), satu untuk Real Madrid, dan tiga tropi Liga Champions, masing-masing satu untuk MU dan dua untuk Madrid. Kalah banyak, memang, namun tak pelak, jauh lebih prestisius.

Bagaimana dengan tim nasional? Sama belaka. Eusebio pada eranya, sebagaimana Ronaldo sekarang, merupakan ikon. Ia juga motor, sumber semangat. Tapi pencapaian tertinggi Eusebio adalah peringkat tiga Piala Dunia 1966. Sedangkan Ronaldo membawa Portugal ke peringkat tiga Euro 2012 dan peringkat dua Euro 2004.

“Saya tidak pernah berminat untuk melampaui (Eusebio). Seperti seluruh orang Portugal, bagi saya, dia pahlawan. Saya belum lahir ketika dia bermain di (Piala Dunia) Inggris. Tapi dari cerita orang-orang, saya tahu, seberapa besar dirinya. Saya masih akan bermain beberapa tahun lagi dan apapun bisa saja terjadi. Tapi dia akan terus menjadi legenda,” kata Ronaldo pada Goal, beberapa hari setelah Eusebio meninggal, 5 Januari 2014. Lewat Twitter, Ronaldo menulis: “always eternal“. Selalu abadi. Satu penegasan pengakuan yang lebih dari sekadar sahih.

Legenda Eusebio dibangun oleh kebanggaan orang-orang Portugal. Mereka tidak datang ke Inggris sebagai unggulan, tapi mampu merangsek hingga semifinal. Dalam My Name is Eusebio, sebuah otobiografi yang terbit tahun 1967, Eusebio bilang. “Mereka (rakyat Portugal) memperlakukan kami seperti pahlawan yang pulang dari medan perang. Saya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis.”

Terlepas dari pengakuannya, tepat setengah abad setelah momentum bersejarah di Inggris itu, Cristiano Ronaldo memiliki kesempatan untuk membangun legendanya sendiri. Ia hanya berjarak satu langkah dari titik fenomenal tersebut. Jika tak ada peristiwa luar biasa, seperti cedera dan semacamnya, Senin dinihari (waktu Indonesia), 11 Juli 2016 di Stade de France, Paris, Ronaldo akan menjadi kapten Portugal pada laga final Euro kontra Perancis.

Mungkin tak banyak yang mengira Portugal akan sampai di partai puncak. Terutama sekali setelah tampil menyedihkan di tiga pertandingan babak penyisihan grup. Bahkan sekiranya dua gol Ronaldo tidak membobol gawang Gabor Kiraly, kiper Hungaria yang bercelana lucu itu, Portugal tidak akan meraih tiket perdelapan final.

Di fase ini, Portugal kembali bermain buruk. Tertatih dan setengah mati digempur Kroasia. Tapi Ronaldo mendapat sedikit angin di akhir paruh kedua babak perpanjangan waktu, dan Kroasia pun terjengkang. Di perempat final dan semifinal, jika dipandang dari sisi teknis, performa mereka juga tidak banyak berubah. Hanya Ronaldo yang jadi pembeda. Dan itu, dilakukannya pascamendapatkan perisakan dari berbagai penjuru dunia akibat komentarnya yang songong perihal Islandia, plus kegagalannya mencetak gol dari titik putih saat kontra Austria.

Satu representasi dari mental yang mumpuni. Rob Smyth, sport writer Inggris dalam kolomnya di Guardian, bahkan menyebut Ronaldo sebagai The Revenant, Hugh Glass, pemburu dan penjelajah legendaris Amerika Serikat, yang karakter kuatnya mengantarkan Leonardo DiCaprio meraih Oscar.

“Ronaldo percaya bahwa dia memiliki kualitas tinggi. Dia tidak peduli pada semua tekanan. Sebaliknya, di dalam tekanan, dia bangkit. Dia selalu dapat menemukan celah untuk keluar dari kesulitan. Barangkali jika orang lain berada dalam posisi yang sama, tidak akan mampu beranjak sejauh yang dilakukan Ronaldo,” tulisnya.

Yang menjadi pertanyaan terbesar, apakah legenda Ronaldo akan benar-benar lahir di Stade de France. Atau justru Antoine Griezmann, La Petit Prince, Sang Pangeran Kecil, yang beranjak jadi seorang raja. Atau Didier Deschamps? Jika Perancis menang, Deshamps akan masuk jajaran elite pelatih dunia. Yakni mereka yang mampu menjadi pemenang baik sebagai pemain maupun pelatih.

Sejauh ini, untuk level tim nasional, hanya dua orang yang mencapainya. Mario Zagalo menjadi anggota skuat tim nasional Brasil di Piala Dunia 1958 dan 1962, lalu memenangkannya lagi sebagai pelatih di tahun 1970 dan 1994, berduet dengan Carlos Alberto Pariera. Lalu tentu saja Franz Beckenbeauer. Der Kaizer –demikian julukannya– menjadi kapten Jerman yang memenangkan Piala Eropa 1972 dan Piala Dunia 1974, dan sebagai pelatih menang di Piala Dunia 1990. Deschamps serupa Beckenbeauer, adalah kapten tim nasional di era emas. Era tatkala Perancis menyandingkan tropi Piala Dunia dan Eropa di tahun 1998 dan 2000.

Pertanyaan tadi sukar dijawab. Sepakbola, sebagaimana kehidupan, berjalan dalam keserbatidakpastian. Sepakbola bukan hitung-hitungan matematika, melainkan lebih kepada baris-baris puisi yang ditulis para penyair.

Kejutan demi kejutan, hentakan, ayunan-ayunan, liukan, pun tohokan demi tohokan yang menghadirkan kekecewaan dan kebahagiaan, yang kadangkala bahkan datang bersamaan. Dan Euro 2016, menjadi perwujudan paling nyata dari filosofi ini.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Minggu, 10 Juli 2016
Halaman 1