Singgah di Omerta

 

MEJA bar kayu di sudut ruangan masih sama. Juga meja-meja tamu yang disulap dari mesin jahit klasik. Kursi bersandaran besi padat berukir, rak-rak buku, etalase yang memajang pernik suvenir otomotif, poster vintage Land Rover dan Vespa berbagai ukuran. Tak ada jejak mafia. Padahal nama kafe ini Omerta. The code of silence. Secara harfiah berarti gerakan tutup mulut, atau boleh jadi kesetiakawanan. Semacam perekat persaudaraan.

Jangan harap ada wisky, vodka, atau brandy, sebab bahkan sekadar bir pun tak tersedia di sini. Cuma kopi dan teh dalam berpuluh varian racikan.

“Selamat datang di Omerta!”

Sapaan yang masih persis sama. Meluncur dari balik meja bar yang tinggi, dari lelaki semampai, beruban, brewokan, bertato, berkacamata minus. Lelaki yang sama. Juga keacuhan yang tidak berbeda.

Namanya Deni, pemilik kedai sekaligus peracik kopi dan teh, merangkap pelayan. Kadangkala, jika orang yang bekerja untuknya berhalangan datang, Deni menggantikannya. Seperti sekarang. Dia menyapaku sembari membersihkan meja bar itu.

Siang jelang matang. 14.30. Aku lupa! Di Omerta waktu berjalan lebih lambat.

“Apa kabar, Bung?”

Pertanyaanku membuat Deni menghentikan aktivitasnya. Sesaat ia menatapku, lekat, lalu memamerkan senyum lebar. “Oi… Lama tak singgah, Kamerad!” katanya setengah berteriak. Dijabatnya tanganku. “Sehatkah?”

“Sehat-sehat orang tua.”

Hahaha… Maka nikmatilah hidup, Bung. Kurangi tidur, perbanyak minum kopi. Jadi, apa pilihan Anda hari ini? Kopi Betina seperti biasa? Atau sesekali mau coba Kopi Jantan?”

Deni memamerkan senyum lebar lagi. Akan tetapi kali ini segera surut dan ia buru-buru melontar maaf. “Bukan maksudku mengingatkan kau padanya.”

Aku menggeleng. Mencoba tersenyum. Siapa bisa lupa?

Usia kami sebaya. Sama-sama lahir di tahun 1977. Bulan ketujuh. Aku tanggal 17 dia 10 hari berselang. Begitu banyak angka tujuh dalam hidup kami. Aku mengkultuskannya secara sadar. Merekayasa sedemikian rupa hingga seluruh hidupku seolah tak bisa dipisahkan dari angka ini. Dia tidak. Seingatku, dia hanya melakukannya untuk satu hal: Tuesday With Morrie, halaman 154. Tiap kali kami singgah di Omerta, dia akan mengeluarkan buku ini dari tas. Tidak untuk dibaca. Dia mencari halaman itu lalu meletakkannya di atas meja dalam kondisi terbuka.

Kok, tidak ada angka tujuh?” kataku, dan dia tertawa. “Bagaimana, sih?” ucapnya setelah tawa reda. “Ini, kan, gabungan angka tahun kelahiran kita, 77 ditambah 77!”

Mulanya tentu saja aku merasa berbunga-bunga. Saat itu kami tidak sedang menjalin hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan, namun dia menempatkan angka tahun kelahiranku di posisi istimewa. Diam-diam aku menyimpan harapan.

Kenapa Tuesday With Morrie, tanyaku di hari lain. “Aku suka. Kupikir membaca novel ini akan membuat orang tak terlalu takut menghadapi mati. Maksudku, setidaknya bagiku. Barangkali bisa sama bagi orang lain. Bisa juga tidak,” ujarnya.

“Jadi pada halaman 154 itu malaikat maut datang?” tanyaku lagi. Asal-asalan saja.

“Tepatnya, belum, Bung. Di sana dipapar bagaimana Janine, istri Mitch, menyanyi untuk Morrie yang kondisinya makin payah. Lagu bersyair sangat indah. The Very Throught of You. Kau pernah dengar? Aku melacaknya di youtube dan menemukan banyak versi di luar aslinya. Dari semuanya, aku suka versi Billie Holiday dan Diane Schuur. Tapi paling mengesankan bagiku justru versi renyah dari Antoinette Clinton, penyanyi muda yang lebih suka menyebut dirinya Butterscotch.”

Lalu dia mulai bersenandung. Di lain hari, ketika keliaran obrolan membawa kami kembali pada topik ini, dia tidak saja menyanyi lebih keras tapi bahkan sampai berdiri di atas meja dan baru turun setelah Deni mendelikkan mata.

Sikapnya memang hampir selalu meriah. Di awal pertemuan kami, dia juga yang pertama mengulurkan tangan. “Mira. Mira Marcela,” katanya.

“Seperti nama penyanyi dangdut.”

“Aku memang penyanyi dangdut.”

Usianya waktu itu 27. Pernah menikah dua kali, bercerai, tanpa anak. Pernikahan pertama terjadi saat dia masih 17 tahun, berangkat dari perjodohan yang sebenarnya potensial membuat hidupnya berubah ciamik.

Lelaki itu dokter di rumah sakit provinsi dan sudah barang tentu mapan dalam segala hal. Ternyata rumah tangganya tak bertahan lama. Hanya bertahan tiga tahun. Bukan cuma karena lelaki 57 tahun itu sungguh payah di tempat tidur dan nafasnya bau walang sangit dan dua anak bawaannya dari istri pertama yang meninggal lantaran kecelakaan sungguh angkuh dan menolak memanggilnya ibu lantaran usia mereka nyaris sebaya. Fakta-fakta ini memilukan. Namun ada dua hal lain yang membuat Mira kehilangan kesabaran dan akhirnya mantap memilih cerai.

Lelaki itu punya tingkat ketelatenan yang sungguh kelewatan. Bahkan untuk perkara-perkara yang sangat sepele. Ia hapal mati letak sendok sayur, toples garam, emper cucian kotor, dan semuanya tidak boleh bergeser satu inci pun dan Mira mesti betul-betul cermat atau seluruh tetek bengek pekerjaan ini akan diulangnya sesuai standar yang ditetapkannya sendiri.

Mira juga merasa terpenjara. Sejak lelaki itu mengikuti satu pengajian ia memberlakukan banyak sekali larangan. Tidak boleh mendengarkan musik, tidak boleh menonton televisi, tidak boleh bepergian seorang diri sekalipun itu ke pasar, ke super market bahkan rumah ibu dan ayahnya. Dan lelaki itu memerintahkannya untuk menutup sekujur tubuhnya. Yang tersisa hanya sepasang mata.

Pascabercerai Mira jadi penyanyi dangdut. Kenapa harus dangdut? Kenapa bukan pop atau rock? Kenapa jadi penyanyi? Kenapa bukan pekerjaan lain atau kenapa dia tak pulang kampung saja, misalnya. Mira tak menjelaskan dan aku juga tak bertanya lebih lanjut. Pastinya, setahun kemudian Mira dinikahi pemilik orkes dan produser rekaman yang mengorbitkannya.

Pernikahan ini berumur sama pendek. Hanya 17 bulan. Mira tak tahan pada kelakuan suaminya yang doyan main pukul dan kelayapan menyantap perempuan.

Mira Marcela mengaku telah melepas 37 album. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk ukuran pedangdut di negeri terkasih ini. Padahal dia belum pernah masuk televisi atau sepanggung dengan penyanyi ternama. Beberapa yang menurutnya laris berjudul Enak-enak Digoyangin, Pacaran Lagi Sama Duda, Mendhem Kangen, Terbujuk Rayu Mega Mix II, Mencari Mangsa Gaya Jaipong, dan Basah-Basah Digilir Cinta Seleksi Koplo Terheboh.

Percakapan soal pernikahan dan dangdut umumnya berhenti sampai di sini. Bukan lantaran kecewa atau tidak menarik. Namun kami memang tak pernah betah dan serius berlama-lama pada satu topik. Sangat sedikit pula yang dipercakapkan serius. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya membutuhkan keseriusan. Seingatku, satu-satunya topik yang tak diakhiri gelak tawa atau kesimpulan ngawur adalah soal racik-meracik kopi.

Dia bertanya kenapa kopi yang disangrai lalu ditumbuk dengan metode tradisional akan memberi cita rasa lebih kuat dibanding kopi bubuk olahan mesin. Dia bertanya kenapa suhu air terbaik untuk menyeduh kopi antara 85 hingga 97 derajat celsius dan kenapa kopi yang telah diseduh dengan gerakan memutar tak perlu diaduk lagi. Dia bertanya mengapa penambahan gula akan membuat kenikmatan menyeruput kopi berkurang. Dia bertanya kenapa ada kopi jantan dan kopi betina. Dia bertanya, tepatnya menggugat, kenapa penamaan jantan dan betina ini didasari bentuk biji kopi yang didekatkan pada alat kelamin –kopi jantan berbentuk bulat sedangkan kopi betina memiliki belahan yang terletak persis di tengah. Kenapa jantan dihargai lebih mahal?

Tak sekadar bertanya. Sering pula dia pergi ke balik meja bar membantu Deni meracik kopi. Untukku selalu diracikkannya kopi betina sedangkan baginya kopi jantan. Kenapa terbalik? Emansipasi, bilangnya. Belakangan aku tahu alasannya tak sesederhana itu.

Tujuh bulan pascaperceraiannya yang kedua Mira bertemu seorang perempuan. Kurang lebih tiga pekan setelah kami berjumpa untuk kali pertama, dia mengenalkan perempuan itu padaku. Mata, bentuk hidung, tulang pipi, dan bibirnya mengingatkanku pada Cyrine Abdelnour, penyanyi Lebanon yang aduhai. Namanya Lena Marlena, pedangdut pendatang baru.

Hari-hari Mira Marcela kemudian riuh diisi segala hal tentang Lena Marlena. Suatu hari dia bercerita bahwa menurut Lena di masa lalu mereka berdua adalah pasangan kekasih. Tak tanggung-tanggung. Mereka bercinta-cintaan pada dua putaran kehidupan. Putaran pertama dia terlahir sebagai laki-laki dan Mira perempuan. Di kehidupan berikut posisinya berbalik.

“Sekarang kalian sama-sama perempuan. Bagaimana itu?”

Sebenarnya aku cuma bermaksud menggoda. Namun Mira menanggapi serius. “Tak masalah, kan? Kupikir aku sudah jatuh cinta padanya,” ucapnya mengejutkanku.

Meski menggebu percintaan mereka tak mulus. Mira dan Lena bergantian memutus hubungan. Paling sering dilatarbelakangi kecemburuan. Puncaknya, menurut Mira, Lena ingin membunuhnya.

“Kau serius?” tanyaku.

“Lihat ini,” ujarnya seraya menyodorkan telepon seluler. Foto ban dan velg mobil: forged alloy racing 17 inci, varian jari-jari. Dua dari empat bautnya tanpa mur. “Aku tak pernah suka mengendarai mobil dengan kecepatan rendah.”

“Kau yakin dia pelakunya?”

“Aku tak punya musuh lain.”

Mira menggeleng-gelengkan kepala. “Kau tahu, Bung. Sebenarnya bukan perkara kematian ini benar yang aku takutkan. Aku cuma kaget, sekaligus sedih dan kecewa. Dia begitu cantik dan begitu licin. Tak kusangka. Dia bahkan belum terhitung penyanyi dangdut kelas dua.”

“Lalu?”

“Aku tak mau konyol. Aku harus mendahuluinya.”

Oh, Tuhan.”

Mira tersenyum. “Ini cuma perkara cinta dan kematian. Tak usah bawa‑bawa Tuhan.”

Sepekan setelah pembicaraan ini mobil Mira Marcela ringsek di jalan tol. Kanvas rem rusak berat. Keempat ban nyaris tanpa bunga dan pada velg sebelah kiri depan, hanya dua dari empat mur yang masih terpasang. Pengemudi mobil yang dikenali sebagai Lena Marlena, terluka parah, dan akhirnya meninggal setelah dua hari dirawat di rumah sakit.

Beberapa jam kemudian Mira Marcela ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Seorang tetangga yang curiga melihat botol-botol susu teronggok berhari-hari di depan pintu, menghubungi polisi. Mira tergolek kaku di ranjang mengenakan kemeja putih kedodoran dan lingerie berwarna senada. Tak ada tanda‑tanda kekerasan pada tubuhnya. Di TKP, tiga dimensi forensik –lantai, dinding, atap– seluruhnya aman.

Kedua kasus ini tak pernah tuntas.

Tiba‑tiba aku merasa mual. “Kamerad, pesananku sudah siap?”

Bah! Anda bahkan belum memesan apa‑apa, Bung,” sahut Deni.

“Kalau begitu Teh Strawberry saja. Tambahkan sedikit mint. Kurasa aku masuk angin.”

Deni tergelak panjang.

 

Medan, 2014–2016

 

KETERANGAN:

*Omerta Koffie, Jalan Wahid Hasyim No. 9, Medan. Kafe ini jadi tempat kumpul dan berdiskusi para pecinta kopi, anggota komunitas Land Rover, Vespa, juga wartawan, fotografer, dan blogger.

 

Dimuat Harian Media Indonesia
Minggu, 22 Januari 2017
Halaman 10

 

Dongeng Kurcaci: Berlanjut Atau Terhenti

  • Leicester City vs Manchester United

 

AFP PHOTO

CLAUDIO Ranieri

SATU pertanyaan besar yang mengemuka usai Leicesester City menjuarai Liga Inggris musim 2015-2016. Apakah mereka bisa mempertahankan kecemerlangan dan mengulang pencapaian?

Pertanyaan seperti ini sesungguhnya bukan pertanyaan istimewa. Kerap muncul tatkala ada klub perusak hagemoni yang melesat jadi kampiun. Wolfsburg di Bundesliga (Liga Jerman) musim 2008-2009, Twente di Eredivisie (Liga Belanda) musim 2010-2011, dan Montpellier di Ligue 1 (Liga Perancis) musim 2011-2012 dan Lille semusim sebelumnya. Dari era yang lebih lama tercatat RC Lens di musim 1997-1998. Di Inggris ada Blackburn Rovers (1993-1994), di Italia ada Sampdoria (1990-1991) dan di Spanyol ada Deportivo La Coruna (1999-2000).

Dari keseluruhan klub perusak hagemoni, kurcaci-kurcaci perajut dongeng peri, hanya Deportivo yang mampu menjawab pertanyaan tadi. Mirip yang dilakukan Napoli, yang setelah menjuarai Serie A di musim 1986-1987 mampu konsisten berada di papan atas sampai musim 1990, Deportivo juga bisa bertahan di level kompetitif selama tiga musim beruntun.

Satu pertanyaan lain semestinya mengemuka. Kenapa Deportivo dan Napoli bisa bertahan sedangkan klub-klub lain sekadar numpang lewat?

Dua jawaban bisa dikedepankan. Pertama, mereka tetap mampu menjadi keutuhan tim. Napoli, kita tahu, mendadak menjelma kekuatan menakutkan setelah Diego Maradona yang merasa tidak nyaman di Spanyol memilih “menyepi” di Kota Naples. Alih-alih terjauhkan dari ingar-bingar sepakbola, Maradona justru melesatkan Napoli. Bersama para young guns, talenta-talenta ciamik Italia yang masih serba panas: Ciro Ferrara, Salvatore Bagni, dan Fernando De Napoli, klub yang selalu berada di bawah bayang-bayang para raksasa ini (Juventus, AC Milan, dan Inter Milan) dibawanya ke singgasana tertinggi.

Pascajuara, para penggawa ini tetap bertahan. Kekuatan Napoli semakin lengkap dengan masuknya legiun asal Brasil. Antonio de Oliveira Filho alias Careca datang di tahun 1987 dan Ricardo Rogerio de Brito atawa Alemao menyusul semusim berselang. Tahun berikut, manajemen Napoli merekrut bintang muda Italia yang permainannya sering dianggap mirip Maradona, Gianfranco Zola. Kolaborasi mereka menghasilkan gelar kedua di musim 1989-1990.

Pula demikian Deportivo. Di tengah hagemoni Real Madrid dan Barcelona, mereka tiba-tiba menghadirkan ledakan. Empat pemain jadi poros utama. Jose Molina di bawah mistar, Noureddine Naybet di belakang, Mauro Silva di tengah, dan Roy Makaay di depan. Poros ini bertahan hingga musim 2002-2003, tatkala mereka menyelesaikan liga di posisi tiga, di belakang Real Madrid dan Real Sociedad. Setahun berselang, dengan poros yang tersisa dua, minus Naybet dan Makaay, Deportivo masih sanggup lolos ke zona Liga Champion.

Lalu bagaimana nasib Leicester City? Apakah akan serupa Napoli dan Deportivo, atau mengulang cerita Montpellier, Lille, Lens, Wolfsburg, dan Blackburn Rovers? Sekali meroket kemudian redup. Atau lebih menyerupai Twente, yang setidaknya masih mampu menunjukkan sisa sengatan usai menampar wajah Ajax, PSV, dan Feyenoord.

Dongeng Leicester memang menarik perhatian siapa saja. Premisnya bukan mengulang kejutan yang pernah ditorehkan klub-klub perusak hagemoni tadi, melainkan sebenar-benarnya anomali. Betapa di era industri sepakbola, era di mana prestasi makin dipercaya berbanding lurus dengan modal, kurcaci masih mampu menumbangkan para raksasa.
Maka analis-analis yang dibayar mahal oleh manajeman klub-klub pemilik modal “tak terbatas” pun melakukan “hitung-hitungan”. Mencari tahu apa rahasia di balik anomali.

Hasilnya? Kekompakan tim. Strategi Claudio Ranieri sesungguhnya sama sekali tidak istimewa. Terlalu biasa dan sederhana jika dibandingkan racikan- racikan Jose Mourinho, Arsene Wenger, Louis van Gaal, Arsene Wenger, Jurgen Klopp, atau Mauricio Pochettino.

Namun racikan sederhana ini mampu diaplikasikan secara dahsyat oleh pemain-pemainnya yang tidak berkategori bintang, bahkan beberapa di antaranya adalah apkiran dan buangan.

Siapa yang sebelumnya mengenal Christian Fuch? Juga nama-nama seperti Robert Huth, Wes Morgan, Danny Drinkwater, Andy King, Jamie Vardy, dan Kasper Schmeichel. Meski sudah lama beredar di Liga Inggris, nama mereka tidak pernah sungguh-sungguh berkibar. Kasper Schmeichel mungkin sedikit lebih dikenal. Cuma sayangnya, bukan karena dirinya, melainkan nama Schmeichel yang ia sandang, yang akan segera mengingatkan orang pada ayahnya, The Great Dane, kiper legendaris Manchester United, Peter Schmeichel. Pun N’Golo Kante, Riyad Mahrez, dan Shinji Okazaki, di klub-klub mereka sebelumnya, bukanlah bintang-bintang utama.

Dan begitulah, memang persis dongeng, pemain-pemain level sekadar ini menyatu dengan sebenar-benarnya, seperti “sehidup semati senasib sepenanggungan”. Antara satu dan yang lain bagaikan saudara.

Analisis lain merujuk pada ‘keberuntungan awal yang kemudian menumbuhkan kepercayaan diri yang dari pertandingan ke pertandingan semakin kuat’. Sebaliknya, kepercayaan diri ini gagal diantisipasi klub-klub lain. Mereka terlena, masih memandang enteng, dan saat tersadar segalanya sudah sangat terlambat.

Leicester City memulai musim 2015-2016 dengan semangat untuk sekadar tak harus bertarung sampai setengah mati demi menghindari degradasi. Tapi tiba-tiba mereka memuncaki klasemen. Tidak pernah kalah. Bahkan ketika berhadapan dengan klub-klub langganan juara. Seperti bermimpi saja, kata Ranieri. Dan pada pasukannya, Ranieri bilang, “mimpi ini indah sekali, jadi usahakan agar kita tidak bangun terlalu cepat”.

Musim 2016-2017 akan dimulai dalam hitungan hari. Dan sampai sejauh ini, Leicester City, masih boleh dikata selamat dari upaya klub-klub kaya, klub-klub yang nyaris menjelma “kartel” dalam industri sepakbola, untuk mempereteli mereka.

Pemain yang pergi baru N’Golo Kante. Mahrez masih bimbang menimbang tawaran Arsenal. Sedangkan poros-poros musim lalu, seperti Vardy, Drinkwater, King, Huth, Morgan, dan Schmeicel masih betah berumah di King Power Stadium.

Tapi persoalannya tidak sesedehana itu. Bagi Leicester City, tantangan tidak berhenti pada komposisi, melainkan juga mental. Tahun ini, untuk kali pertama dalam sejarah, mereka akan bermain di Liga Champions, kasta tertinggi sepakbola Eropa. Mereka akan bermain di Camp Nou, Santiago Bernabeau, Juventus Stadium, Alianz Arena, Olympico, stadion-stadion raksasa, stadion milik klub-klub yang sudah kenyang makan asam di kompetisi premium.

Apakah mereka siap? Tentu sulit untuk mengatakan siap tak siap. Akan tetapi, hasil laga ujicoba kontra Paris Saint Germain dan Barcelona bisa dijadikan semacam gambaran. “Ada yang sedikit berubah pada kami. Ada beban yang seharusnya tidak ada. Tapi saya belum terlalu khawatir. Kami masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya,” kata Ranieri pada sky sport, beberapa jam setelah laga kontra Barcelona.

Begitulah beban sekarang ada pada Leicester City. Beban yang musim lalu tidak ada. Musim lalu, pemain melangkah ringan di lapangan dan bermain dengan riang. Menang syukur, seri syukur, kalah, ya, tidak apa-apa. Nothing to lose. Namun status sebagai juara liga paling gemerlap di dunia telah mengubah keringanan langkah dan keriangan mereka. Sekarang, pemain masuk lapangan dengan pikiran takut kalah.

Malam nanti, di Wembley, dalam laga Community Shield, kita akan melihat apakah beban itu dapat diminimalisir atau justru makin merasuk Leicester. Mereka menjajal Manchester United.

Bukan laga mudah tentunya. Meski resminya cuma “laga pemanasan”, Community Shield terlanjur dipercaya sebagai tolok ukur kekuatan klub, apakah layak jadi calon juara atau penggembira saja.

Terlebih-lebih lawan mereka Manchester United. Tiga tahun ini Manchester United terpuruk lantaran salah urus. Sekarang mereka mencoba bangkit. Jose Mourinho didatangkan, dan dia, sejauh ini, sudah menghabiskan Rp 1,1 triliun untuk belanja pemain. Jumlah yang bisa berlipat lebih dua kali apabila Paul Pogba jadi merapat.

Jose Mourinho sedang dalam misi untuk mengembalikan nama besarnya yang tercoreng pascaditendang untuk kali kedua dari Chelsea. Dan kita sudah sama- sama tahu siapa dia. Saat mengejar ambisi, Mourinho tidak pernah setengah- setengah.

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Minggu, 7 Agustus 2016
Halaman 1

Dua Air Mata di Stade de France

Banyak keyakinan dalam memaknai binatang-binatang dari satu peristiwa. Sebagian masyarakat di negeri ini menganggap kehadirannya sebagai pertanda. Misalnya, ular masuk rumah adalah malapetaka. Atau kupu-kupu. Ada kupu-kupu, berarti akan ada tamu –meski pada kenyataannya tidak selalu begitu.

 

FOTO-FOTO: AFPLANTAS bagaimana memaknai kehadiran binatang di Stade de France, Saint Denis, Paris, pada Senin dinihari (waktu Indonesia) itu?

Partai final Euro, kejuaraan sepakbola paling gemerlap di benua biru, dan binatang itu, yang awalnya disangka kupu-kupu tapi kemudian diidentifikasi sebagai moth, ngengat bertubuh lebih besar (termasuk dalam family yang sama dengan kupu-kupu, yakni Lepidoptera), turun ke tengah keriuhan stadion yang disesaki 75 ribu penonton pada menit ke 33 pertandingan, lalu hinggap di wajah Cristiano Ronaldo, di atas bulir air matanya yang menitik.

Apakah sebagaimana halnya kupu-kupu, ngengat ini datang sebagai penanda kabar baik? Ngengat tidak pernah dipilih oleh para penyair tiap kali mereka menuliskan perkara cinta? Ngengat tidak memenuhi unsur keindahan. Tapi mungkinkah insting hewani membawanya untuk hinggap pada orang yang teraniaya padahal sesungguhnya lebih pantas mendapatkan cinta?

Tentu beragam telaah bisa diapungkan. Para penyair bisa menuliskan bermacam puisi. Para filsuf dapat membangun beragam teori. Jika Slavoj Zizek, filsuf mbeling dari Slovakia itu dengan cemerlang dan canggih mencacah-cacah anatomi tubuh manusia untuk diteorikan secara filsafatis, kenapa dia tidak mampu melakukan penghubung-hubungan antara ngengat, cinta, dan sepakbola?

The Moth Effect, tulis sejumlah media Perancis. Tapi bagi Cristiano Ronaldo, tak terlalu penting kupu-kupu atau ngengat. Dia sama sekali tidak ingat.

“Saya merasa sakit sekali. Saya merasa ini sudah berakhir dan saya sangat menyesal, sekaligus sangat marah dan sedih. Untuk sesaat, saya tidak tahu harus melakukan apa kecuali menangis,” katanya pada Dailymail, usai pertandingan.

thekicker.com

Ronaldo memang menangis. Enam menit sebelumnya, dalam perebutan bola dengan Patrice Evra dan Dimitri Payet, lutut kirinya kena terjang. Payet yang datang dari sisi kiri belakang, berupaya menyerobot bola, yang pada saat bersamaan telah digeser Ronaldo ke sisi yang lain. Tak ayal, lutut Payet menghajar lutut Ronaldo, yang langsung membuatnya terkapar. Ronaldo sebenarnya sudah menyadari bahwa ia tidak mungkin lagi bermain. Tapi masih memaksa bermain.

“Saya bilang, lakukan apa saja. Lakukan apapun yang membuat saya bisa bertahan di lapangan lebih lama,” ucapnya.

Maka staf medis tim nasional Portugal pun menyemprotkan cairan bius, kemudian membebat lutut Ronaldo sangat tebal. Upaya yang gagal dan Ronaldo menyerah, menangis. Cederanya terlalu parah, bahkan untuk sekadar bisa melangkah dengan normal.

Kabar dilansir situs olahraga sportskeeda, yang disebut sebagai kabar unconfirm, kabar yang belum terkonfirmasi (kepada Ronaldo maupun otoritas tim nasional Portugal), menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan tim medis, ACL atau Anterior Curate Ligament pada lutut kaki kiri Ronaldo sobek, dan atas cedera ini, diperkirakan membuatnya menepi dari lapangan hingga lima bulan ke depan.

Horor bagi Ronaldo. Tapi ajaibnya, berselang 87 menit, justru menjelmakan keindahan bagi Portugal. Kontradiksi yang barangkali tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Sebab korelasi yang umum dipahami, Ronaldo adalah separuh nyawa Portugal. Tanpa Ronaldo, Portugal tidak berarti apa-apa.

Korelasi seperti ini pulalah yang barangkali dipahami oleh pemain-pemain Perancis, dan di sini letak celaka dua belas bagi mereka. Pemain-pemain Perancis merasa di atas angin. Tidak ada lagi pemain yang perlu ditakuti. Nani sudah lewat masa jayanya. Renato Sanches masih terlalu muda.

Tapi tidak mereka sangka, sama sekali tidak, keluarnya Ronaldo justru memunculkan kekuatan Portugal yang selama ini tersembunyi. Kekuatan kolektif.

“Sangat sulit ketika harus kehilangan seorang pemain yang sangat penting. Seseorang yang selalu bisa diandalkan untuk melepaskan tim ini dari kebuntuan tiap kali dibutuhkan. Tapi ketika Cris menggelengkan kepalanya dan menangis, saya sadar, kami semua sadar, bahwa kami harus berbuat sesuatu,” kata Pepe dalam wawancara dengan BBC.

Dan “sesuatu” ini, adalah kerja keras. Portugal barangkali memang kesebelasan yang paling tidak berbakat di antara kontestan-kontestan unggulan di Euro 2016. Level mereka hanya sedikit lebih baik dibanding Denmark di tahun 1992 dan Yunani 12 tahun berselang.
Selain Ronaldo dan Nani, mereka hanya punya Pepe, sebagai pemain yang dapat dimasukkan dalam kategori berkualitas premium sekaligus populer.

Lain-lainnya adalah pemain bagus yang masih dapat diasah jadi bintang, pemain bagus yang tidak dapat lagi berkembang, dan pemain yang biasa-biasa saja. Juga beberapa pemain tua yang sesungguhnya sudah tidak pantas lagi berseragam tim nasional.

Berbeda jauh dibanding Portugal di tahun 2004. Kala itu mereka punya Luis Figo, Rui Costa, Pauleta, Nuno Gomes, Deco, Ricardo Calvalho, Fernando Couto, dan — tentu saja– Ronaldo yang ketika itu baru berusia 19. The Golden Generation.

Namun seperti dikemukakan Pepe, tanpa Ronaldo di lapangan, Portugal bersatu lebih solid. Tidak ada lagi pemain yang “harus” diberi bola membuat wilayah permainan jadi lebih lebar dan tidak sentralistik, dan Perancis, ternyata, tak siap menghadapi perubahan yang nyaris sekonyong-konyong ini. Kelegaan yang kebablasan. Kenyamanan yang dari menit ke menit berubah jadi kebingungan dan ketaksabaran, yang pada akhirnya membuat pemain-pemain Perancis makin individualis.

Di lain sisi, kekurangcermatan Didier Deschamps membuat situasi bertambah parah. Dia menarik keluar Payet yang pascamenjagal Ronaldo mendadak kehilangan kegarangan. Payet bermain serba tanggung dan canggung. Deschamps memilih Kingsley Coman, pemain 20 tahun yang musim lalu bersinar bersama Bayern Munchen.

Coman seperti pilihan yang tepat. Ternyata tidak. Penumpukan pemain di lini tengah yang dilakukan Fernando Santos, membuat kecepatan dan kepiawaian Coman yang memukau Pep Guardiola, jadi tersia-sia.

Pergantian Olivier Giroud dengan Andre-Pierre Gignac, dan Moussa Sissoko dengan Anthony Martial, Perancis terkesan kian dominan. Menguasai bola lebih banyak. Akan tetapi, itu tiada lebih dari “fatamorgana” lantaran tak berbanding lurus dengan intensitas tekanan. Ada tekanan, namun jarang sekali yang membahayakan. Kecuali peluang Gicnac yang dimentahkan tiang gawang, bola- bola Perancis nyaris selalu bisa dipatahkan sebelum masuk kotak penalti.

Ketinggalan satu gol lewat kolaborasi Eder dan Moutinho, dua pemain pengganti Portugal, semakin mencuatkan kepanikan. Serangan yang tadinya masih terukur berubah ngawur dan sporadis, dan Portugal pun hanya perlu menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan konyol, dan mereka berhasil.

“Ini salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya, dalam karier saya. Dalam banyak kesempatan saya mengatakan bahwa setelah gelar demi gelar saya raih, saya sangat menginginkan gelar untuk tim nasional. Dan sekarang saya mendapatkannya. Tuhan memang bekerja dengan cara yang tidak pernah bisa diduga. Luar biasa,” kata Ronaldo yang tetap saja menjadi sorotan meski sudah berada di luar lapangan.

DAILYMAIL

Betapa tidak. Dari ruang perawatan, Ronaldo bangkit di pertengahan paruh kedua, berjalan menuju bench, lalu bertingkah seperti pelatih. Tepatnya asisten pelatih. Berdiri di samping Fernando Santos, ia berteriak-teriak memberikan instruksi pada rekan-rekannya, memprovokasi lawan, mendamprat wasit. Sebentar-sebentar, matanya melirik ke arah jam besar di sudut Stade de France.

Dan tatkala Mark Clattenburg meniupkan pluit tanda laga berakhir, Ronaldo menangis lagi. Ini kali tentu saja tangis bahagia. Tangis yang menandai lahirnya seorang legenda.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Selasa, 12 Juli 2016
Halaman 1

Satu Langkah Menuju Legenda

  • Portugal vs Perancis

 

Siapakah Marcelo Rebelo de Sousa? Jawabannya Presiden Portugal, dan hampir bisa dipastikan, kecuali warga negara Portugal atau orang-orang yang memang betul-betul getol mencermati medan tarung politik dunia, tidak akan banyak yang bisa menyebutnya tanpa terlebih dahulu mengulik laman pencarian di internet.

 

AFP PHOTO/ROMAIN LAFABREGUE

CRISTIANO Ronaldo

TAPI, kecuali mereka yang betul-betul terasing dari peradaban dunia, akan dengan serta-merta memberi jawaban tatkala ditanya perihal nama ini, Cristiano Ronaldo.

Iya, siapa tidak kenal. Bahkan orang-orang yang tak menyukai (atau katakanlah membenci) sepakbola, tetap mengenalnya. Paling tidak, pernah mendengar namanya. Terkait siapa yang lebih baik antara dirinya dengan Lionel Messi, boleh jadi akan terus jadi perdebatan. Namun sama sekali tidak bisa dimungkiri, dari sisi popularitas, Ronaldo unggul. Bintangnya, sama cemerlang di dalam dan di luar lapangan.

Meski demikian, di Portugal, Ronaldo ternyata dianggap belum sampai ke puncak. Dia memang sudah melewati nama-nama seperti Luis Figo, Rui Costa, dan Pauleta. Ronaldo menjadi pemain dengan penampilan terbanyak untuk tim nasional, sekaligus pencetak gol paling subur pula. Dia bermain 132 kali dan melesakkan 61 gol, hampir dua kali lipat dari pencapaian Figo yang berjarak paling dekat dengannya (127 caps, 32 gol).

Akan tetapi, bagi rakyat Portugal, nomor satu adalah Eusebio. Di belakang nama lengkapnya, Eusebio da Silva Ferreira, disematkan dua gelar kehormatan: GCIH (Gra-Cruz Infante Dom Henrique) dan GCM (Grand Cruz Merit). Gelar-gelar yang diberikan pemerintah untuk orang yang dipandang berjasa bagi negara.

Ronaldo juga mendapatkan gelar ini. Di belakang namanya, Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro, Ronaldo berhak menyematkan GOIH atau Grande Oficial Infante Dom Henrique. GOIH, setingkat di bawah GCIH.

Pengakuan lain datang dari rakyat Portugal. Eusebio diberi gelar O Rei, dalam bahasa Portugis bermakna ‘Yang Mulia’, ‘Yang Dipertuan’, atau ‘Sang Raja’. Pengakuan yang tinggi, dan Ronaldo, sampai sejauh ini, belum mendapatkannya.

Satu ironi juga sebenarnya. Sebab jika diperbandingkan, dalam banyak hal Eusebio tertinggal dari Ronaldo. Dari sisi statistik, Eusebio memegang caps 64 dengan 41 gol.

Prestasi klub? Sama saja. Sepanjang kariernya yang terentang dari tahun 1957 sampai 1979, Eusebio lebih banyak merumput untuk klub-klub kurang terkenal. Satu-satunya klub di lingkaran elite Eropa yang pernah diperkuatnya adalah Benfica. Ia berada di sini selama 15 tahun, melakoni 301 pertandingan dan mencetak 317 gol. Di masanya, Benfica 11 kali menjuarai Liga Portugal dan satu kali memuncaki Liga Champions (Dulu Champions Cup).

Ronaldo, setelah memulai karier di Sporting Lisbon, kita tahu, pergi ke Inggris untuk memperkuat Manchester United. Lalu terbang ke Spanyol, ke Santiago Bernabeau, ke Real Madrid, dengan rekor bayaran tertinggi di dunia pada tahun 2009. Pencapaiannya, tiga gelar juara liga untuk Menchester United (MU), satu untuk Real Madrid, dan tiga tropi Liga Champions, masing-masing satu untuk MU dan dua untuk Madrid. Kalah banyak, memang, namun tak pelak, jauh lebih prestisius.

Bagaimana dengan tim nasional? Sama belaka. Eusebio pada eranya, sebagaimana Ronaldo sekarang, merupakan ikon. Ia juga motor, sumber semangat. Tapi pencapaian tertinggi Eusebio adalah peringkat tiga Piala Dunia 1966. Sedangkan Ronaldo membawa Portugal ke peringkat tiga Euro 2012 dan peringkat dua Euro 2004.

“Saya tidak pernah berminat untuk melampaui (Eusebio). Seperti seluruh orang Portugal, bagi saya, dia pahlawan. Saya belum lahir ketika dia bermain di (Piala Dunia) Inggris. Tapi dari cerita orang-orang, saya tahu, seberapa besar dirinya. Saya masih akan bermain beberapa tahun lagi dan apapun bisa saja terjadi. Tapi dia akan terus menjadi legenda,” kata Ronaldo pada Goal, beberapa hari setelah Eusebio meninggal, 5 Januari 2014. Lewat Twitter, Ronaldo menulis: “always eternal“. Selalu abadi. Satu penegasan pengakuan yang lebih dari sekadar sahih.

Legenda Eusebio dibangun oleh kebanggaan orang-orang Portugal. Mereka tidak datang ke Inggris sebagai unggulan, tapi mampu merangsek hingga semifinal. Dalam My Name is Eusebio, sebuah otobiografi yang terbit tahun 1967, Eusebio bilang. “Mereka (rakyat Portugal) memperlakukan kami seperti pahlawan yang pulang dari medan perang. Saya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis.”

Terlepas dari pengakuannya, tepat setengah abad setelah momentum bersejarah di Inggris itu, Cristiano Ronaldo memiliki kesempatan untuk membangun legendanya sendiri. Ia hanya berjarak satu langkah dari titik fenomenal tersebut. Jika tak ada peristiwa luar biasa, seperti cedera dan semacamnya, Senin dinihari (waktu Indonesia), 11 Juli 2016 di Stade de France, Paris, Ronaldo akan menjadi kapten Portugal pada laga final Euro kontra Perancis.

Mungkin tak banyak yang mengira Portugal akan sampai di partai puncak. Terutama sekali setelah tampil menyedihkan di tiga pertandingan babak penyisihan grup. Bahkan sekiranya dua gol Ronaldo tidak membobol gawang Gabor Kiraly, kiper Hungaria yang bercelana lucu itu, Portugal tidak akan meraih tiket perdelapan final.

Di fase ini, Portugal kembali bermain buruk. Tertatih dan setengah mati digempur Kroasia. Tapi Ronaldo mendapat sedikit angin di akhir paruh kedua babak perpanjangan waktu, dan Kroasia pun terjengkang. Di perempat final dan semifinal, jika dipandang dari sisi teknis, performa mereka juga tidak banyak berubah. Hanya Ronaldo yang jadi pembeda. Dan itu, dilakukannya pascamendapatkan perisakan dari berbagai penjuru dunia akibat komentarnya yang songong perihal Islandia, plus kegagalannya mencetak gol dari titik putih saat kontra Austria.

Satu representasi dari mental yang mumpuni. Rob Smyth, sport writer Inggris dalam kolomnya di Guardian, bahkan menyebut Ronaldo sebagai The Revenant, Hugh Glass, pemburu dan penjelajah legendaris Amerika Serikat, yang karakter kuatnya mengantarkan Leonardo DiCaprio meraih Oscar.

“Ronaldo percaya bahwa dia memiliki kualitas tinggi. Dia tidak peduli pada semua tekanan. Sebaliknya, di dalam tekanan, dia bangkit. Dia selalu dapat menemukan celah untuk keluar dari kesulitan. Barangkali jika orang lain berada dalam posisi yang sama, tidak akan mampu beranjak sejauh yang dilakukan Ronaldo,” tulisnya.

Yang menjadi pertanyaan terbesar, apakah legenda Ronaldo akan benar-benar lahir di Stade de France. Atau justru Antoine Griezmann, La Petit Prince, Sang Pangeran Kecil, yang beranjak jadi seorang raja. Atau Didier Deschamps? Jika Perancis menang, Deshamps akan masuk jajaran elite pelatih dunia. Yakni mereka yang mampu menjadi pemenang baik sebagai pemain maupun pelatih.

Sejauh ini, untuk level tim nasional, hanya dua orang yang mencapainya. Mario Zagalo menjadi anggota skuat tim nasional Brasil di Piala Dunia 1958 dan 1962, lalu memenangkannya lagi sebagai pelatih di tahun 1970 dan 1994, berduet dengan Carlos Alberto Pariera. Lalu tentu saja Franz Beckenbeauer. Der Kaizer –demikian julukannya– menjadi kapten Jerman yang memenangkan Piala Eropa 1972 dan Piala Dunia 1974, dan sebagai pelatih menang di Piala Dunia 1990. Deschamps serupa Beckenbeauer, adalah kapten tim nasional di era emas. Era tatkala Perancis menyandingkan tropi Piala Dunia dan Eropa di tahun 1998 dan 2000.

Pertanyaan tadi sukar dijawab. Sepakbola, sebagaimana kehidupan, berjalan dalam keserbatidakpastian. Sepakbola bukan hitung-hitungan matematika, melainkan lebih kepada baris-baris puisi yang ditulis para penyair.

Kejutan demi kejutan, hentakan, ayunan-ayunan, liukan, pun tohokan demi tohokan yang menghadirkan kekecewaan dan kebahagiaan, yang kadangkala bahkan datang bersamaan. Dan Euro 2016, menjadi perwujudan paling nyata dari filosofi ini.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Minggu, 10 Juli 2016
Halaman 1

Pangeran Kecil dan Raja yang Belum Mau Turun Tahta

  • review semifinal

 

Tidak ada lagi cerita Karim Benzema. Tak ada Eric Cantona. Cerita kecewa, pesimistis, khawatir, berganti keoptiomistisan yang serba meluap-luap. Pasukan Didier Deschamps secara cantik mengubah sikap ini.

 

AFP PHOTO/FRANCK FIFE/FRANCISCO LEONGHARAPAN sekarang membubung, dari kesebelasan yang dipandang kurang berbakat menjadi calon juara, dan pers Perancis, yang merasa harus mengedepankan seorang tokoh, memilih Antoine Griezmann. Mereka, mengacu pada gerakan massal yang digalang suporter Les Bleus –julukan tim nasional Perancis– di Twitter, menyebutnya Le Petit Prince, Pangeran Kecil, satu dari sedikit karakter rekaan populer yang pernah dilahirkan penulis-penulis Perancis.

Awal 1942, Antoine de Saint-Exupery, seorang aristokrat, penerbang dan penjelajah, mulai menulis apa yang disebutnya sebagai “kelebatan-kelebatan di kepala yang membuat tidurku tak nyenyak”. Yakni potongan-potongan kisah yang berangkat dari pengalamannya selama berada di sejumlah negara di Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Utara.

Setahun berselang tulisan itu selesai dan Saint-Exupery memberinya judul Le Petit Prince. Saat akan diterbitkan menjadi buku, ia sendiri yang menggambar sampulnya: seorang anak berambut pirang berpakaian serba hijau dengan dasi kupu-kupu merah. Ada juga bulan dan bintang-bintang. Sampul yang memang sengaja dibikin meriah dan riang, karena Saint-Exupery memaksudkan Le Petit Prince sebagai cerita anak-anak.

Sejarah kemudian memberi tempat berbeda pada Le Petit Prince. Sebagai cerita anak-anak, di balik keindahan dan kelucuan yang dihadirkannya, Le Petit Prince dianggap kelewat serius dan rumit.

Pangeran Kecil adalah seorang bocah dari planet yang ukurannya tidak lebih besar dari sebuah rumah. Bagaimana ia bisa berada di sana, tidak dijelaskan. Apakah dia punya ayah dan ibu, kakek dan nenek, dan sanak keluarga lain, juga tidak dijelaskan. Di planetnya bocah ini sendirian saja, dan lingkungannya cuma sebatang pohon bunga mawar, tiga gunung api (dua di antaranya aktif), dan tunas-tunas pohon Baobab yang setiap hari ia cabuti karena jika dibiarkan akan tumbuh jadi pohon-pohon raksasa yang bisa membinasakan planetnya.

Meski Saint-Exupery berupaya menjelaskan bahwa cerita yang ditulisnya tidak butuh penjelasan (“Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya, dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan kepada mereka”), Le Petit Prince tetap –dan barangkali akan selalu– dianggap terlalu “dewasa” bagi anak-anak. Terlalu filosofis, terlalu sufistik –hal yang barangkali tidak disadari oleh penulisnya sendiri. Bagaimana, misalnya, menjelaskan dengan sederhana kalimat ini pada seorang anak: “Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tak terlihat oleh mata.”

Tapi begitulah, walaupun sampai hari ini tidak ada kata sepakat apakah lebih cocok untuk anak-anak atau dewasa, Le Petit Prince diterima sepenuhnya dan tiap-tiap pembacaannya dilakukan dengan gembira. Bahkan lebih jauh, di Perancis, Pangeran Kecil telah menjadi semacam representasi keberhasilan dan kebahagiaan.

Maka tatkala tanda pagar, #LePetitPrince, berseliweran di Twitter, dan La Figaro, surat kabar Perancis, juga memakainya untuk menyebut Antoine Griezmann dalam laporan mereka, rakyat Perancis menyambutnya dengan sukacita. Tanpa perlu ada yang menjelaskan apakah Griezmann pernah membaca Le Petit Prince, apakah ia menyukainya, atau apakah julukan sebagai Pengeran Kecil yang nyaris “sakral” ini pantas disematkan untuk orang Perancis yang lebih menyukai musik Amerika, misalnya.

Greizmann, dalam wawancara dengan Dailymail, mengatakan sejak beberapa tahun terakhir banyak mengoleksi lagu-lagu rap. Satu di antara rapper yang ia sukai adalah Drake. Begitu suka hingga Griezmann sampai menyisihkan waktu untuk melatih gerak tari Drake dalam lagu Hotline Bling. Gerak baru yang sebelumnya memang tak lazim (untuk tidak menyebutnya belum pernah ada) dalam rap, atau bahkan hiphop secara umum.

Gerakan ini beberapa kali ia tunjukkan usai mencetak gol untuk Atletico Madrid di Liga Spanyol dan Liga Champions. Di Euro 2016 muncul empat kali. Masing- masing satu kali saat kontra Republik Irlandia, satu kali versus Islandia, dan dua kali ketika Perancis melibas Jerman. Drake Dance absen di pertandingan melawan Albania. Perancis menang 2-0, tapi mereka baru bisa membongkar pertahanan rapat Albania di menit 90.

“Waktu itu saya lupa dan tidak melakukannya. Seperti juga waktu membuat gol pertama ke gawang (Republik) Irlandia. Saya terlalu emosional. Albania bermain sangat disiplin dan itu membuat saya, membuat kami semua, sempat frustasi. Itu gol yang sangat penting,” katanya pada goal.

Terlepas dari perkara cocok tak cocok, pasang surut karier Antoine Griezmann sedikit banyak memang mirip kisah Pangeran Kecil yang melakukan perjalanan pencarian jati diri dari planet ke planet sebelum akhirnya terdampar dan menemukan apa yang dipahaminya sebagai cinta kasih dan kehidupan di bumi.

Tidak memiliki darah Perancis murni, Greizman lahir dari seorang ayah berdarah setengah Jerman setengah Perancis, dan ibu yang merupakan keturunan Portugal. Di usia remaja, ia bermain untuk klub di kota tempatnya dilahirkan, UF Macon. Dari sini, pada suatu hari di tahun 2004, Griezmann menjadi satu dari sejumlah pemain yang dikirim klub untuk mengikuti tes yang digelar dua klub kenamaan Perancis, Montpellier dan Paris Saint Germain.

Griezmann memukau para pencari bakat kedua klub ini. Akan tetapi, gerak lebih cepat justru dilakukan pencari bakat Real Sociedad, klub La Liga, yang datang menyaksikan tes tersebut sekadar sebagai tamu undangan. Griezmann pindah ke Spanyol dan bermain untuk Sociedad selama sembilan tahun, sebelum intuisi Diego Simeone melesatkannya ke jajaran elite pesepakbola Eropa.

Di Sociedad dia hebat. Bermain di 179 pertandingan dan melesakkan 46 gol. Tapi tak dapat dimungkiri, adalah Simeone yang mengasah bakatnya hingga jadi semakin mengkilap. Mengisi posisi yang ditinggalkan Diego Costa, Griezmann menjelma striker paling ditakuti di Eropa. Total dia sudah bermain 77 laga untuk Atletico, mencetak 44 gol.

“Salut saya untuk dia (Griezmann). Dia selalu bekerja keras dan berupaya memberikan seluruh kemampuan setiap kali diturunkan. Kami sudah melangkah sampai sejauh ini. Pada setiap pertandingan ada dua atau tiga pemain yang sangat menonjol, dan dia selalu termasuk di antaranya,” kata Didier Deschamps pada situs olahraga Perancis, Foot Mercato.

Dua gol Griezmann mengirim Jerman pulang kandang. Di final, Perancis bertemu Portugal, dan Griezmann, Pangeran Kecil ini, akan bertemu seorang raja bernama Cristiano Ronaldo. Raja yang sudah lama sekali berkuasa tapi belum juga mau turun tahta. Raja yang entah dengan kekuatan macam apa selalu bisa kembali ke titik puncak kekuasaan saat banyak orang meragukan dan menganggapnya tak lagi memiliki kelayakan sebagai raja.

Siapa menyangka Portugal bakal berada di laga puncak. Portugal menjadi anomali di kejuaraan besar ini. Mereka melangkah ke semifinal tanpa satu kali pun pernah mencatat kemenangan di waktu normal pertandingan (2 x 45 menit). Tiga kali imbang di fase penyisihan, mereka menang 1-0 atas Kroasia di perdelapan final melalui gol Ricardo Quaresma di menit 117. Di perempat final, lagi-lagi mereka bermain kacamata sebelum menang 5-3 lewat adu penalti kontra Polandia. Namun Portugal ke final setelah menekuk Wales 2-0 di babak empat besar.

Banyak orang yang mencibir. Tidak sedikit yang membela. Umumnya, para pembela, membalik cara pandang. Tak dapat menang, dalam kasus Portugal, kan, juga berarti tidak kalah. Bahwa bisa bertahan dari kekalahan tentu tidak boleh tidak disebut sebagai kehebatan juga.

Dari sudut pandang masing-masing, tentu, kedua argumentasi ini sama benar. Pun pihak yang menyetarakan Portugal di Euro 2016 dengan Argentina di Piala Dunia 1990. Bermain bobrok sepanjang kejuaraan tapi lolos juga ke final, melulu lewat tuah Diego Maradona.

Apakah sebagaimana Argentina dan Maradona di tahun 1990, pencapaian Portugal sejauh ini juga disebabkan tuah Ronaldo? Kecenderungannya demikian. Sepakbola, tentu saja, bukan permainan individu, dan “tesis” ini makin ke sini, makin terbukti. Portugal sekarang punya Renato Sanches. Juga masih punya pemain-pemain berpengalaman seperti Pepe dan Nani. Akan tetapi, tanpa Ronaldo, tanpa Sang Raja, Portugal akan serta-merta berubah lembek, persis tape ubi.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Sabtu, 9 Juli 2016
Halaman 7

Anomali yang Nyaris Sempurna

  • review perempat final

 

Setiap mimpi pasti berakhir. Dongeng paling indah sekalipun bakal menemui ujung. Begitu pula mimpi dan dongeng Islandia di Euro 2016. Datang sebagai kesebelasan yang paling dipandang remeh, Islandia merangsek sampai ke perempat final. Dalam perjalanan ke titik ini, mereka menahan imbang Portugal dan memberikan noda pada sejarah panjang sepakbola Inggris.

 

AFP PHOTO/FRANCISCO LEONG

CRISTIANO Ronaldo

TAPI mimpi dan dongeng memang harus berkesudahan. Islandia tak berdaya di hadapan Perancis dan anomali Euro 2016 pun gagal mencapai level sempurna seperti yang terjadi di tahun 2004. Hanya nyaris. Rekor Yunani masih bertahan.

Bukankah masih ada Wales? Tidak, Wales berada di posisi berbeda. Islandia, dan juga Yunani di tahun 2004, datang ke medan duel betul-betul sebagai semenjana yang papa. Wales tidak. Mereka barangkali memang miskin gelar. Bahkan sejak Piala Dunia 1958 tak pernah sekali pun lolos ke babak utama kejuaraan besar. Namun kali ini berbeda.

Ke Perancis, Wales datang membawa serta sejumlah superstar. Ada bintang- bintang Liga Premier Inggris. Pemain di klub-klub besar. Ada Aaron Ramsey yang merumput untuk Arsenal, Joe Allen di Liverpool, dan Andy King yang baru saja mengecap manisnya gelar juara bersama Leicester City. Tentu saja nama Gareth Bale tidak boleh dilewatkan. Tiga tahun lalu, Real Madrid menebus Bale dari Tottenham dengan nilai yang masih jadi rekor tertinggi sampai sekarang, 85,1 juta poundsterling, berselisih lima juta poundsterling dari rekor sebelumnya yang dipegang pemain Real Madrid yang lain, Cristiano Ronaldo.

Bahwa Wales adalah anomali, iya. Namun keanomaliannya; penyimpangan atau ketidaknormalan dari sesuatu yang terlanjur dianggap lazim, sedikit banyak terjadi karena keanomalian yang lain. Yakni performa di luar ekspektasi yang ditunjukkan oleh kesebelasan-kesebelasan unggulan.

Sekiranya Inggris bermain bagus, sesuai harapan, maka mereka tidak akan lolos dari grup B sebagai runner up. Pula begitu Spanyol di grup D, yang harus memberikan “tempatnya” pada Kroasia. Paling menakjubkan adalah anomali di grup F. Hungaria dan Islandia yang tidak diunggulkan justru keluar sebagai juara dan runner up grup. Unggulan utama, Portugal, hanya masuk dari “jalur samping”, peringkat ketiga terbaik.

Perkiraan awal “porak-poranda” dan keanamolian ini kemudian membentuk dua bagan pertandingan babak gugur yang tidak sama kuat. Bagan yang di satu sisinya mempertemukan kesebelasan-kesebelasan yang tadinya tak diunggulkan, sedangkan di sisi lain mengharuskan kesebelasan-kesebelasan unggulan saling bunuh.

Italia pagi-pagi mesti bertemu Spanyol, lalu berhadapan dengan Jerman. Di semifinal, Jerman bentrok dengan Perancis. Di sisi bagan yang lain, di perempat final, Wales bertemu Irlandia Utara dan melewatinya, lalu menghadapi ujian sesungguhnya kontra Belgia.

Banyak pengamat sepakbola, terutama dari Inggris, memperkirakan langkah Wales terhenti di sini. Perkiraan yang sesungguhnya berdasar bukan saja karena Belgia merupakan negara Eropa dengan peringkat FIFA tertinggi di Euro 2016, melainkan juga karena performa yang sedang menanjak. Di perdelapan final, Belgia membantai dan mengakhiri riwayat anomali yang lain, Hungaria, empat gol tanpa balas. Tapi begitulah. Di luar semua perkiraan yang paling cermat dan paling logis, Wales menang.

Anomali? Dalam kasus ini mungkin tidak. Mungkin levelnya baru sebatas kejutan. Berbeda dibanding, misalnya, kemenangan Islandia atas Inggris, terlebih-lebih — jika terjadi– atas Perancis.

Wales menang dan dengan itu memperbaiki catatan pencapaian yang telah berumur 58 tahun, karena mereka memiliki potensi untuk melakukannya. Ada faktor-faktor yang –meskipun tidak sangat sahih mempengaruhi– dapat membuat perkiraan terjungkirbalikkan.

Dibandingkan Wales, yang lebih pantas disebut anomali justru lawan mereka di semifinal, Portugal. Ditempatkan sebagai unggulan, hingga fase empat besar, Portugal tidak pernah sampai pada identitas sejati. Mereka rapuh dan gugup. Bahkan lebih luar biasa, mereka tiba di babak ini tanpa sekalipun dapat memenangkan pertandingan di waktu normal.

Pascaberturut-turut meraih hasil imbang di penyisihan grup, di perdelapan final, Portugal menekuk Kroasia lewat gol semata wayang yang dilesakkan di menit 117. Kontra Polandia mereka menang penalti 5-3, setelah waktu 2 x 45 dilalui dengan skor 1-1.

Cristiano Ronaldo, tentu menampik. Kesebelasan yang mendapatkan tekanan besar namun tidak terjerambab dan tetap bertahan di jalur menuju puncak, menurutnya, adalah bukti sahih dari jiwa dan mental yang kuat. Portugal, kata Ronaldo, selalu memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

When you believe you achieve the top,” tulisnya di Twitter. Iya, jika kamu percaya diri, kamu akan sampai di puncak tertinggi.

Cukupkah hanya bermodalkan kepercayaan diri? Bagaimana dengan taktik? Nama Chris Coleman sekarang melambung ke jajaran elite pelatih di Eropa. Taktik yang diturunkannya kontra Belgia dinilai sangat jitu. Setara kejituan taktik Antonio Conte yang membuat Italia melibas Spanyol dan memaksa Jerman bertarung hingga babak adu untung.

Sama dengan Conte, kuncinya mengelola lini tengah dengan cermat. Bagaimana Coleman membagi porsi yang pas antara Aaron Ramsey dan Joe Allen. Lima gelandang Wales sukses membingungkan barisan pemain tengah Belgia, yang notabene –kecuali Radja Nainggolan– merupakan “penari-penari”. Taktik penutupan ruang yang efektif plus tekanan ketat dalam presisi, mematikan kreasi gelandang-gelandang itu.

Ramsey, lantaran kecerobohannya yang konyol, tidak akan ambil bagian di laga empat besar. Tanpa Ramsey, tingkat kesolidan Wales pasti berkurang. Namun tanpa taktik yang jitu dari Fernando Santos, Portugal tidak akan dapat memanfaatkan celah ini.

Persoalannya, Santos suka beraneh-aneh. Terutama dalam memberikan porsi bagi Renato Sanches, pemain yang sesungguhnya bisa banyak diharap apabila Ronaldo kembali mengalami kebuntuan. Pemain 18 tahun ini, barangkali lantaran dianggap masih kelewat hijau, selalu diposisikan untuk datang dari bangku cadangan. Padahal statistik menunjukkan, performa Portugal meningkat tiap kali bermain.

Di perempat final, Fernando Santos memasukkan Renato Sanches ke starting eleven dan keputusan itu dijawab dengan gol yang membuat skor imbang. Tapi entah apa yang jadi sebab, entah apa yang jadi pertimbangan, di paruh waktu kedua hingga wasit meniup pluit akhir 15 menit kedua babak perpanjangan waktu, Sanches digeser ke kiri dan diberi peran lebih besar sebagai gelandang sayap yang menyisir lapangan, bukan menyayat ke dalam. Akibatnya, daya tohok Portugal melemah.

Tanpa Ramsey di lini tengah, Wales akan mengalami penurunan, dan semestinya Santos dapat memaksimalkan peran Sanches ketimbang memilih untuk tetap memberikan porsi itu kepada Joao Moutinho yang sejauh ini belum cemerlang.

Jika langkah ini diambil, peluang Portugal lolos ke final akan terbuka. Lawannya? Agak sulit diprediksi. Keduanya sama-sama punya modal yang cukup untuk sampai ke laga puncak. Bukan sekadar karena nama besar, “tradisi”, materi pemain, dan taktik pelatih. Di antara seluruh kontestan Euro 2016, hanya Jerman dan Perancis yang belum melakukan kesalahan. Belum pernah mengalami fluktuasi performa. Grafik mereka dari pertandingan ke pertandingan terus naik. Semakin lama semakin baik.

Jerman memang sempat tertatih di perempat final. Tapi ketertatihan ini tentunya mesti dimaklumi pula, sebab lawannya adalah Italia. Bahkan kemenangan lewat adu penalti itu pun sesungguhnya wajib mereka syukuri, mengingat sebelum ini, di berbagai ajang, Italia lebih sering membuat Jerman jadi pecundang.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Selasa, 5 Juli 2016
Halaman 1

Jangan Sadarkan, Kami Sedang Mabuk Cinta

  • Perancis vs Islandia

Seorang lelaki bernama Aki Jonsson, pergi tidur dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sabtu, 27 Juni 2016, menjadi malam yang istimewa. Tiga jam sebelumnya, dia duduk di depan televisi dengan santai belaka, nyaris tanpa harapan. Islandia akan menghadapi Inggris, harapan macam apa yang layak dikedepankan?

 

AFP PHOTO/BERTRAND LANGLOIS

FANS Islandia

PERTANDINGAN berlangsung dan Islandia mempecundangi Inggris. Satu gol masing- masing dari Ragnar Sigurdsson dan Kolbeinn Sigporsson, sudah cukup untuk membuat gol perdana Wayne Rooney di Euro 2016 jadi tak lagi berarti. Pun sepanjang laga, Islandia sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah kurcaci yang sedang melawan raksasa.

“Saya sudah hidup 78 tahun dan melewati banyak sekali peristiwa. Tapi malam ini saya merasa jadi orang yang berbeda. Islandia mengirim Inggris pulang. Bahkan dalam mimpi saya tidak berani membayangkan. Ini sangat luar biasa. Saya beruntung masih hidup untuk menyaksikannya,” kata Jonsson dalam kisah yang dituliskan anaknya, Jon Gunnar Akason, untuk The Guardian.

Pascakekalahan Inggris atas Islandia membuncahkan “huru-hara” di Inggris. Para pemain yang bergaji tinggi itu dihujat. Diam-diam, banyak yang mulai membenarkan ucapan Gareth Bale. Jelang laga Inggris kontra Wales, Bale bilang bahwa dibandingkan mereka, semangat dan nasionalisme pemain-pemain Inggris tidaklah terlalu besar.

Tidak sedikit yang menyalahkan FA. Menurut para penuding ini, FA kerap salah menunjuk pelatih untuk menangani tim nasional. Ada banyak pelatih. Ada banyak yang cerdas dan mumpuni dan muda, pilihan malah jatuh pada Roy Hodgson.

Namun tak sepetik pun dari “huru-hara” ini yang berkaitpaut dengan Islandia. Tidak ada hujatan. Sebaliknya, yang mencuat justru kekaguman. Media-media Inggris membuka ruang yang besar untuk menampung cerita-cerita kemeriahan dari Islandia. Tak terkecuali The Guardian, media konservatif yang selama ini dikenal lebih “anggun” dan “tak berisik”.

Dari Guardian pula, yakni lewat satu artikel yang memuat sejumlah “ungkapan kebahagiaan”, diketahui bahwa sekarang harapan itu menguat. Meski masih tetap berbalut mimpi, setidaknya, ada kengototan yang menyertainya.

It’s turning into a nationwide romance, we’re in love,” tulis warga lain bernama Alex Alexandersson. Seluruh negeri sedang jatuh cinta. Dan disebut Alex lagi, “siapapun sekarang mendadak jadi menyukai sepakbola. Pacar saya tidak pernah menyukai sepakbola sebelumnya. Tapi sekarang dia hapal nama-nama seluruh pemain, hanya dengan melihat wajahnya.”

Cinta yang mendadak, seperti mimpi indah, sering tak berumur panjang. Keduanya sama-sama mencuatkan kebahagiaan semu. Namun bagi rakyat Islandia, yang jumlahnya cuma 300 ribuan, hakekat ini tak berlaku.

Sejak lama mereka sudah membangun kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan dalam pengertian berbeda dari pengertian umum, yang berangkat dari kebanggaan yang barangkali juga tidak lazim. Kebahagiaan dan  kebanggaan menjadi seorang Islandia, seperti dipapar Jonas Hallgrimsson, seorang penyair, dalam A Toast to Iceland, satu puisi pendek yang jadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di negeri ini.

Our land of lakes forever fair/below blue mountain summits,
of swans, of salmon leaping where
the silver water plummets, of glaciers swelling broad and bare
above earth’s fiery sinews –the Lord pour out his largess there
as long as earth continues!

“Setelah Inggris sekarang Perancis. Dari satu raksasa ke raksasa yang lain. Mau apa lagi, memang sudah seperti itulah garis nasib. Dan kami menerimanya dengan berbahagia. Kami sedang jatuh cinta. Tak apa, jangan sadarkan kami atas mabuk yang sangat nikmat ini. Bagi kami ini sangat-sangat penting, sekarang. Sejauh ini kami sangat solid dan mudah-mudahan tetap begitu, dan setelahnya biarlah mengalir saja. Apapun bisa terjadi,” kata Gudni Johannesson, Presiden Islandia, dalam wawancara dengan CNN yang dikutip Washington Post.

Johannesson, 48 tahun, yang baru terpilih sebagai presiden lima hari lalu (ia menjadi presiden termuda dalam sejarah Islandia), atau hanya berselang sehari sebelum Islandia menghancurkan Inggris di Nice, mengatakan dirinya akan datang ke Stade de France, Saint-Denis, untuk menonton laga kontra Perancis, dinihari nanti.

Tapi tak seperti lumrahnya para kepala negara saat menonton pertandingan sepakbola, Johannesson tidak akan berada di tribun VVIP. Dia memilih untuk tidak duduk bersisian dengan Francois Hollande dan Manuel Valls, Presiden dan Perdana Menteri Perancis.

“Untuk apa saya duduk di sana dan menonton pertandingan sambil minum sampanye. Saya bisa melakukan itu kapan saja dan di mana saja. Masih banyak waktu. Tidak, tidak, saya akan datang dengan kostum tim nasional kami. Dan sepanjang pertandingan, saya akan berdiri di tengah-tengah rakyat saya. Kami akan sama-sama berteriak untuk para pahlawan bangsa. Saya sudah sampaikan kepada Tuan Presiden (Francois Hollande) dan beliau memahami keputusan ini,” ujarnya.

Begitulah, kebahagiaan sekarang memang merebak ke seluruh penjuru Islandia, negeri es yang nyaris sepanjang tahun dikepung kebekuan. Siapapun merasakan hal yang sama. Dari presiden hingga warga biasa. Namun meski mengaku mabuk dan tenggelam dalam ketidaksadaran yang menghangatkan, mereka sebenarnya tetap memahami realitas. Tuhan menurunkan mukjizat. Tuhan merestui keajaiban. Tapi keduanya tidak hadir sesering tiupan angin.

Dibandingkan Inggris, jelas-jelas Perancis lebih memiliki daya pukul. Kuat dan kokoh di semua lini, dari bawah mistar hingga lini serang. Friksi yang sempat mengapung terkait Karim Benzema dan Hatem Ben Arfa sudah mulai dilupa seiring performa fantastis Antoine Greizman.

Perancis juga sedang dilambungkan oleh semangat deja vu –sesuatu: hal, perkara, peristiwa,  yang sebelumnya sudah pernah terjadi dan (seolah-olah) kini terulang. Tahun 1998, juga saat bertindak sebagai tuan rumah, Perancis meraih gelar juara Piala Dunia. Jadi, deja vu ini pada dasarnya harapan juga. Pertanyaannya, mungkinkah terwujud?

“Kami sudah sampai di perempatfinal, tinggal dua langkah lagi. Ada Islandia, lalu kemudian Jerman atau Italia. Bukan jalan yang mulus, tentunya. Islandia sama sekali tidak bisa dipandang remeh. Kesebelasan yang bisa sampai ke perempatfinal kejuaraan sebesar Euro adalah kesebelasan yang hebat,” kata bek Perancis, Patrice Evra.

Ada nada diplomatis di sana. Barangkali juga kewaspadaan. Tapi pastinya, bukan merendah. Sama sekali tidak. Evra mungkin menempatkan Inggris sebagai cerminan. Sebobrok-bobroknya dan sekacau-kacaunya, Inggris tetaplah tim besar. Sekadar nama saja biasanya sudah mustajab, merupakan modal yang membuat lawan gemetar.

Islandia mampu mengacuhkan kecenderungan ini. Mereka masuk lapangan dengan gagah dan menganggap tiga singa raksasa selevel belaka, dan hasilnya –kita sama- sama tahu– sangat menakjubkan. Dan memang tak ada alasan untuk tidak memperlakukan Perancis dengan cara yang sama.(*)

 

Dimuat Harian Tribun Medan
Minggu, 3 Juli 2016
Halaman 1